babunegara works with microsoft forntpage

jjjjj

 

babunegara ngeblog!: Gak lucu atau mencobanya. Gak mutu atau maksain untuk itu. Bukan terobosan hebat karena blog ini hanyalah bukti saya lebih sering nganggur dibanding pegawai lain.

bangpay: Seorang anak, suami, kakak, sahabat dan rekan kerja. Tinggal dan bekerja di Ternate sebagai priyayi KORPRI di sini. Pecinta oblong, celana setengah tiang dan topi yang hidup bagai kecoa.

 

make|blog|not|war

 

profil bangpay

langganan pake RSS? (opo kuwi?)

 

 
 
Sunday, February 03, 2008
Jika Saya Ndak Nongol Di Sini
JARINGAN LELET. SEMELEKETE!

Permasalahan jaringan benar-benar mengekang aktivitas saya dalam ngeblog. walaupun ngeblog sebenarnya belum bisa dikategorikan sebagai aktivitas wong saya lebih sering ngentut daripada ngeblog, tapi intinya gara-gara jaringan yang hangudubilah leletnya jaringan kantor saya sempoyongan untuk konek ke sini.

Tapi bukan saya namanya kalo saya nyerah begitu saja. Tiap kali mo ngeblog saya refresh terus browser yang keburu ambruk koneksinya itu sampai akhirnya ide dan mood saya hilang, maka batallah saya ngeblog haru itu.

MAKA SAYA PINDAH KE SINI.

Tapi blog ini gimana? Memang sih dengan ngeblog di wordpress semuanya jadi lancar tapi.... Saya seneng banget lho ngeblog pake blogspot. Tapi ini bukan soal pilihan, ini soal kebutuhan akan ngeblog.

Jadi saya insya allah-nya akan tetap ngeblog di sini tapi juga nulis di kalangkabut.wordpress.com secara resmi saya mengumumkan dalam hal ngeblog saya berpoligami. Huahahahaha!!

Soal saya keukeuh ngeblog, selain karena ambisi pribadi, saya juga merasa tertantang untuk mempertahankan eksistensi blogger asal ternate, yang belakangan satu demi satu bertumbangan.

Sampai jumpa!

Kunjungi saya di sini ya....

KALANGKABUT.WORDPRESS.COM

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 11:53 PM   15 komentar

Wednesday, January 23, 2008
Lapor, Bos!! Bini Hamil!!!
LAPOR!!!

ISTRI SAYA RESMI HAMIL! MOHON DOANYA AGAR LANCAR SELALU.

laporan (untuk saat ini) selesai dulu!

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 10:28 PM   11 komentar

Monday, December 24, 2007
Tahun 2007 Hampir Usai, Tarik Nafaaass!!!
TANGGAL 2 September adalah tanggal terakhir saya nulis di blog ini. Lama sekali. Kemana saja saya?? Saya sendiri bingung mau bilang saja. Tapi satu alasan yang bisa saya utarakan -di antara berjuta alasan gawat lainnya- adalah lantaran kantor saya yang sebentar lagi konon mau berbasis IT itu masih miskin bandwitdh sedang saya lebih sreg kalo posting di blog ndak mutu ini di kantor sembari tenguk-tenguk nunggu jam pulang (ini korupsi tho? korupsi bandwitdh??).

Tahu-tahu tanggalan di kalender sudah harus diganti lagi. Bentar lagi masuk ke tahun 2008. Dua Ribu Delapan. Saya bukan peramal atau orang yang tanggap ing sasmita, apalagi orang yang mumpuni ilmu katuranggan dan ngiman supingi! Bukan tapi saya berani bilang, jangan berdoa tahun depan tidak ada masalah.

Karena yang namanya masalah itu ya berbanding lurus dengan kehidupan. Selama hidup ya anda semua bakal kena masalah. Wis tho ndak usah konfirmasi ke penasihat spiritual sampeyan, memang begitulah kenyataannya..

Sebagaimana biasa saya akan bikin resolusi bukan revolusi -karena saat ini kata revolusi juga sudah mulai bau duit, kaus-kaus bertuliskan revolusi dan tetek bengeknya kan sudah jadi barang jualan- yang pastinya ndak terlalu ngaruh di negara ya mawut-mawut seperti Endonesia kita tercinta ini.

Apa ya resolusi saya kali ini? Jangan yang muluk-muluk ah! Saya kan suka lupa dan melupakan. Selain mood-mood-an saya ini orangnya suka mut-mutan... Tentunya dengan bini. Halah...

Entah bagaimana nasib blog saya tahun 2008 nanti. Semoga masih tetep hidup dan lebih lagi semoga saya punya waktu luang. (Iri saya dengan temen saya ini yang masih punya banyak waktu luang, bukan begitu, bung??)

Yang jelas di tahun 2008 delapan nanti saya janji akan lebih sering mandi karena belakangan gerundelan istri saya lantaran saya tidak mandi berujung ke pertengkaran. Menyedihkan memang di usia saya yang kini lewat seperempat abad saya masih susah untuk mandi.

Terus, saya berniat untuk mencoba tren baru -minimal hal yang baru buat saya- yaitu sisir. Sisir, jungkat atau apalah nama yang anda berikan untuk alat merapikan rambut. Tentunya nantinya saya harus konfirmasi ke tukang pangkas rambut langganan saya agar tidak lagi memotong rambut saya dengan gaya "terserah kau sajalah yang penting aku tak perlu sisiran kalo mau kemana-mana".

Old & New Party-nya mo kemana, pay?

Akan halnya itu saya Insya Allah pas malam tahun baru nanti kami hanya akan klekaran beralaskan karpet di depan televisi yang dilengkapi dengan 18 channel dan nyamikan ndeso semacam terang bulan atau martabak dan kacang sukro. Ndak keren memang tapi klekaran begini minimal bisa merangsang agar hubungan saya dan bini makin, makin dan makin erat lagi....

Lagi pula dengan ngglethak di karpet, ranjang bisa ngaso dulu.... Huahahahaha!!

Lekoh!

Ya sudah... nikmati hidup anda, yang penting ingat kalo hidup itu sendiri tidak cuman sekedar buat mat-matan saja....

Selamat Tahun Baru 2008!!!!


Labels: , , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 3:51 AM   8 komentar

Sunday, September 02, 2007
Jalan-jalan Ke Buli, Halmahera Timur
HARI kamis lalu saya bersama kepala seksi saya dinas ke buli, sebuah desa di Kabupaten Halmahera Timur. Tujuan kami tak lain tentu saja hanya mau melakukan pemeriksaan sebuah perusahaan tambang di sana. Berikut ini ceritanya.



Buli, adalah desa yang hadir dan berkembang karena adanya perusahaan tambang disana. Penduduknya multi etnis, baik penduduk asli, pendatang dari ternate, bugis, buton, gorontalo, jawa dan tentu saja etnis tionghoa ada disana. Untuk ukuran Indonesia Timur, buli termasuk rame. Tapi untuk ukuran sampeyan yang tinggal di jawa, buli itu neraka.



Ya, pusat keramaian di buli hanya pasar yang buka jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Jalanan yang becek. Dan tentunya sepi.

Jam setengah 11 pagi hari kamis saya dan bos saya berangkat ke Buli menggunakan pesawat Trigana Air. Perjalanan hanya 20 menit. Alhamdulillah cuaca lagi cerah. Turun dari pesawat, feeling saya mulai gak enak. Bayangkan saja kalo sampeyan turun di pesawat kayak turun dari angkot pas musim hujan. Bandara apa ini? Kok becek???

Celana dan sepatu saya penuh lumpur. Ponsel saya hanya menunjukkan satu - dua bar tanda daerah bandara Buli ini miskin sinyal. Saya dan Kasi saya benar-benar buta arah dan transportasi menuju daerah tambang yang kami periksa. Beruntung kami berjumpa dengan (sebut saja) BapakMaman Sumaman, pegawai PT Aneka Tambang yang kebetulan sedang menjemput tamu.

Dengan bahasa sunda yang terpatah-patah saya mencoba menanyakan kemungkina transportasi yang paling efektif menuju Perusahaan Tambang yang hendak kami periksa. Efek Psikologis yang saya harapkan terjadi juga.

Begini, menurut sampeyan nama Maman Sumaman yang terpampang di name tag itu nama orang mana? Otak saya langsung menangkap bahwa nama seperti itu atau Dadang Sudadang atau Cecep Gorbacep adalah orang sunda. Dan seperti jutaan perantau lainnya akan sangat senang jika perasaan kerinduan akan kampung halaman ada yang menyentuhnya. Hasilnya?

"Bapak naik bis bandara dulu nanti mintya turun di PT Antam, dari sana saya akan antar Bapak-bapak. Soalnya mobil kami penuh jadi kita bertemu di sana saja, Oke, Pak?"

Senyum saya melebar...



BULI, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur adalah sebuah desa kecil yang termasuk rame untuk ukuran desa di pulau Halmahera. Saya akui saya berharap terlalu banyak saat hendak berkunjung kesana. Saya terlalu antusias dengan kata "rame".

Transportasi darat adalah cobaan terberat saat saya bersama Kasi saya yang telah saya tulis di sini. Hanya mobil-mobil yang terpilih yang bisa bertahan di jalur darat Buli yang semuanya bagai jalur off road. Mobil yang paling banyak saya jumpai disini adalah mobil Mitsubishi Strada. Ya, butuh performa mesin yang bukan main-main untuk bisa melalui jalanan di sana.

Lebih terkejut lagi ketika saya sampai di pusat kota Buli dimana mobil yang dipakai untuk transportasi umum antar kota seperti Buli - Subaim - Sofifi (calon Ibukota Propinsi Maluku Utara) kebanyakan bernilai 500 juta ke atas! Jarak Buli dengan Subaim yang berjarak kurang lebih 40 km harus ditempuh selama 4 jam!! Bayangkan jika sampeyan menggunakan mobil ceper bermesin melempem?!

Ongkos mobilnya juga gak baen-baen. Untuk trayek Buli - Subaim kita harus merogoh kocek Rp. 200 ribu! 40 km seharga 200 ribu??? Dan Subaim - Sofifi harus keluar uang kurang lebih 300 ribu lagi itupun harus ditempuh selama 5 jam pula!



Perjalanan darat adalah alternatif kami berdua untuk pulang ke ternate karena penerbangan baru ada hari selasa minggu depan. Dari Buli kami berencana Ke Subaim lalu nyambung ke Sofifi. Dari Sofifi kami berencana naik speed boat menuju Ternate. What a plan!

Anda mengeluh jalanan berlubang atau rusak? Ndak malu sama penduduk pedalaman? Kita sama-sama orang Endonesia lho....

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:03 AM   12 komentar

Saturday, July 28, 2007
Melepas Status Bujang Geografis
Akhirnya dengan sedikit berat hati dan banyak tekanan mental, saya harus melepas status saya sebagai bujang geografis di pulau ternate ini.

Istri saya yang tercinta akhirnya mendapat kepastian pindah mengikuti suaminya yang ganteng nan rupawan ini. Hal ini sudah dipastikan via telpon tadi jam 9 pagi.

Di balik sana suara bini saya bener-bener keliatan excited dengan mutasinya itu. Sedang saya? Dengan pindahnya bini saya tentunya akan membuat waktu leyeh-leyeh glethakan rebahan di depan TV waktu hari libur menjadi sirna, tidur di kantor juga bakal ndak bisa, pipis depan rumah juga pasti jadi haram, atau ngupil seenaknya jelas bakal menimbulkan prahara di bukit menoreh (anyone know what the hell bukit menoreh was?)

Bini, kusambut dirimu dengan segala cintaku! Aku senang akhirnya kita bisa bersatu....

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:54 PM   16 komentar

Thursday, July 26, 2007
Pejabat Coret Mental Gembel
Kadang saya bingung dengan diri saya (tentu saja orang lain pun sering bingung tentang saya). Di satu sisi kadang kalanya saya anti dengan hal-hal yang bersifat darurat, tapi saya juga sering kali bertingkah macam gembel. Percaya atau tidak saya sering sekali tidur di kantor. baik sekedar untuk lembur atau memang lagi ndak mau pulang ke rumah (toh saya ini bujang geografis).

Saya kok jadi sering ngelamun, seandainya saya kerja di hotel tentunya minimal bisa menikmati kasur yang enak di kantor sendiri. Ah sekedar angan-angan.

Bagaimanakah saya tidur di kantor saya?

Tentunya di kantor saya tidak ada yang namanya tempat tidur. Jadi tidur di kasur sudah sangat jarang saya lakukan. Jika saya dipasrahi kunci ruang server tentunya akan nikmat karena bisa molor di atas karpet (agak) tebel dan AC yang sejuk. Kalo tidak?

Kantor saya ini kantor darurat, karena bangunan yang lama sedang di bangun kembali setelah dianggap tidak layak untuk digunakan. Nah di kantor sementara yang dulunya bekas minimarket ini, tak ada musholla! Ya, kantor memang dekat dengan masjid jadi buat apa bikin mushola. Nah biasanya kan (dimana-mana) yang namanya musholla kantor akan menjadi tempat pelarian paling nyaman untuk tidur-tiduran siang meluruskan pinggang meski sudah ada larangan tidur di situ.

Jadi di kantor saya tidur beralaskan kardus bekas, potongan karpet sisa atau bahkan kertas koran bekas!!!!

Alhamdulillahnya saya dianugerahi kemampuan untuk tidur dimana saja (mengingat saya pernah ketiduran di kamar mandi) jadi tidur di kantor tetap ada nikmat-nikmatnya buat saya.

Dimana tho nikmatnya mas?

daripada ketiduran dengan posisi duduk, tidur di atas koran tentunya akan lebih nikmat. Daripada insomnia kayak hobinya bini saya, tidur di atas kursi lipat yang disusun sedemikian rupa tentunya bagaikan mukjizat!

Omong-omong soal tidur dengan kursi lipat, postur tinggi tubuh saya ternyata bisa muat tidur dengan nyaman hanya dengan dua buah kursi lipat!! Sebuah prestasi membanggakan? Tidak juga, namun saya seringnya suka senyum-senyum geli memikirkan betapa baiknya Gusti Allah sama saya....

Bagaimana tidur sampeyan tadi malam?


Labels: , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 1:21 PM   2 komentar

Wednesday, July 25, 2007
(lagi) Kekerasan di IPDN
Gak gumun. Gak ngungun. Serius, kok saya gak kaget sama sekali ketika kemarin mendengar berita tentang penganiayaan yang dilakukan oleh para praja tingkat III IPDN terhadap seorang tukang ojek sampai akhirnya korban meninggal dunia. Ya, sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan gratis dari pemerintah di sini, saya kadung sebel! gaya sok-jagoan begini kan gak ada faedahnya sama sekali. Oke lah kalo mo sok jago di dalam kandang, ndak papa kok sok senior! Sok senior disini ya dengan cara lebih sering nraktir makan, bagi-bagi rokok, atau ndobos tentang masa depan di dunia kerja nanti. Lha nek sok jagoannya dengan cara adigang adigung adiguna ya saya ndak ikut-ikutan!



Di dalam kampus saja yang toh nantinya akan menjadi lulusan dengan pangkat dan golongan yang sama (hanya beda masa kerja jika menyangkut junior-senior) sudah begitu parahnya, lha bagaimana nanti di dunia kerja? Bagaimana juga nanti dalam melayani masyarakat?

Ada kenalan saya (yang saya benci) begitu ngantor di sebuah instansi pemda kampung saya kok ya jadi aneh. Tetangga saya yang sekantor sama dia sering cerita bagaimana soknya teman saya itu terhadap pegawai lain yang pangkat dan golongan serta tingkat pendidikannya lebih rendah darinya. Sedang kepada yang lebih tinggi malah over dalam hal nunduk-nunduk! Gombal Mukiyo tenan!!

Hidup kan cuman mampir ngombe tho? Mbok mari minum dari cawan kebijaksanaan sebanyak-banyaknya, bukan malah mendhem minum anggur sampai mabuk!

Ndak puas jadi jago kandang lalu mencoba melebarkan sayap ke luar kampus? Apapun alasannya kekerasan harus ditanggapi dengan bijak. Apapun penyebabnya, toh harus tetap pakai akal dan hati. Keroyokan tentunya bukan hal yang keren di mata perempuan, adik-adik semua!!!

Saya heran, kegiatan kampusnya ngapain aja sih? Jatah makanannya apa saja sih? Kok emosi tinggi semua???

"Mas, kalo sampeyan tiba-tiba didatangi orang gak dikenal yang minta rokok bagaimana, mas?"
"Ya bilang kalo saya gak merokok!!"
"Lha kalo mkaksa minta dibeliin rokok?"
"Ya belikan saja..."
"Kok gitu?"
"Lha iya tho?? cuman rokok lho... bukan minta celurit atau minta dibeliin berlian kan?"

Sumber: Media Endonesia
Gambar diambil dari sini.

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 1:15 PM   4 komentar

Saturday, July 21, 2007
Korelasi antara Jenggot dengan Pemberontak
Saya nyadar bahwa belakangan berat badan saya naik lagi dan membuat tubuh saya makin keliatan lebar. Bukan satu-dua yang nyindir saya, tapi di kantor saya bahkan beberapa Wajib Pajak juga ikut-ikutan menyindir kondisi saya saat ini.

Saya ini dari dulu terkenal sekali malas sisiran. Untuk hal satu ini saya pake prinsip WYSITMWIWUIWYGITO !!!!! Beda dengan WYSIWYG, WYSITMWIWUIWYGITO mempunyai kepanjangan: What You See In The Morning When I Wake Up Is What You Get In The Office !!!!



Makanya sebulan sekali saat bertandang ke tukang pangkas rambut langganan saya, saya tinggal order:

"Uda, biasa! Potong biar saya ndak usah sisiran!!!"

Apa sih efeknya cukur pendek bagi saya? Dengan model rambut ala kadarnya begitu, maka saya akan makin keliatan tembem. Seolah-olah di jidat saya akan terpampang tulisan: "GEMUK" dengan sangat jelasnya. Beberapa orang yang biasa memanggil saya bangpay bahkan ada yang mengganti panggilan saya menjadi: "BANGPAO" yang tentu saja plesetan dari Bakpao.

Nah ceritanya beberapa minggu lalu pas potong rambut bulanan, Tukang Cukur Langganan saya yang asli Solok, Sumbar itu tumben-tumbennya menawarkan agar saya dipotong saja jenggotnya. Biar lebih rapi, katanya.

Saya nurut saja.

Setelah selesai, barulah penyesalan datang. Apa pasal?

Gara-gara ndak punya jenggot, saya makin keliatan gemuk! Ya, jenggot yang selama ini menutupi lemak di dagu saya, dus menandai dagu saya akan keliatan aneh tanpa jenggot. Ternyata dagu saya hampir-hampir tak kentara tanpa jenggot. Whelhadalah...

Sebenarnya niat memotong habis jenggot saya sudah ada sejak lama. Hal ini dikarenakan, seringnya baik rekan-rekan saya maupun saya sendiri mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan dan kurang sopan saat hendak memasuki bandar udara (di Endonesia) dengan adanya jenggot di dagu kami.

Kebayang kan misalnya pas kita udah terburu-buru mau check-in karena pesawat hampir take off eh kok malah mendapat pemeriksaan berlebihan, beda dengan penumpang lainnya. Lha kalo yang meriksa badan itu cewek cakep sih gak papa, lha kalo apes? Dapatnya laki-laki yang sok penting dan sok tegas.... galaknya itu lho! Padahal sama-sama makan nasi....

Kembali ke jenggot.

Oke. Tentunya saya berlebihan jika saya sampai gusar ngadepin urusan jenggot ini. ledekan temen sekantor? Okelah masih bisa ditolerir. Namun kemarin pas hari jum'at eh kok ya ada Wajib Pajak yang nyeletuk:

"Wah... cukur jenggot ya, pak??? Jadi keliatan Gemuk!"

Enough, i said! This jenggot matters kill me! Mulai saat ini demi kemaslahatan bersama, saya akan numbuhin jenggot saya meski cuman seadanya dan keliatan pating cringih!

Seorang teman menasehati: "makanya, biar dagumu gak gemuk, mbok kalo disuruh bos itu nurut dan ngangguk-angguk terus tho... jangan ngeyel!! Nanti kan dagumu bisa rata! Liat tuh... pegawai yang 'berani' sama atasan kan dagunya tebel semua... ayo latihan ngangguk dan nunduk!! Huahahahaha".

By the way, kalo bulu ketek juga dicukur gundul apa bakal menimbulkan efek visual yang nampak lebih endut?

Foto: diri sendiri, diambil menggunakan kamera ponsel Nokia 6600, seminggu setengah setelah dicukur.

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:51 AM   2 komentar

Tuesday, July 17, 2007
Membuat NPWP untuk kepentingan umat
Sepulang shalat jumat beberapa minggu lalu dan makan siang, saya kembali ke kantor. Kantor masih lengang hanya nampak beberapa orang. TPT (tempat pelayanan terpadu, tempat utama pelayanan terhadap Wajib Pajak) masih tutup. Saya lihat ada seorang bapak-bapak berjenggot panjang mondar-mandir didepan meja TPT. Bapak tersebut saya samperin.

"Ada perlu apa, pak? Barangkali bisa saya bantu?" tanya saya sesopan mungkin.

"Kok belum ada orangnya, mas?" jawab beliau, bukan jawaban atas pertanyaan saya tadi.

"Oh, soalnya masih jam istirahat, maklum hari jumat.... mungkin baru selesai shalat jumat, mau ketemu dengan siapa?" jawab saya lagi.

"Ooooo.. ini, saya mau bikin NPWP, mau nanya syarat-syaratnya!" jawab bapak tersebut, lagi-lagi tidak sinkron dengan pertanyan saya.

"Hmm... NPWP untuk Orang Pribadi atau untuk Badan, Pak?

Gusti Allah juga Maha Humoris ternyata. Saya yang dari pagi bermuram durja diberikan hiburan yang tak terduga. Sang bapak tadi yang merupakan pimpinan sebuah organisasi sosial keagamaan yang hendak membuat koperasi menjawab:

"Insya Allah untuk kepentingan Umat, mas...."

Alhamdulillah... Hari ini benar-benar indah! Huahahahahaha...

Keterangan: ditulis 08 juni 2007 di blog intranet pajak namun baru dipindah disini sekarang. kok postingan ini kayak penyuluhan perpajakan yang terselubung ya?? hahahaha..

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 4:51 AM   1 komentar

Sunday, July 15, 2007
Selamat Pagi, Gamalama!
Apa jadinya kalo sampeyan tinggal berdekatan dengan jejeran gunung berapi dan salah satunya tengah meletus?


Saya yang tinggal di ternate -yang sebenarnya tidak nampak seperti sebuah pulau namun tinggal di kaki Gunung Gamalama yang masih aktif hingga kini itu- mau tidak mau jadi sedikit waspada. Kenapa?

Setelah Gunung Gamkonora meletus, banyak yang bilang: "kalo nanti Gunung Ibu ikut meletus tandanya kita (orang ternate) harus siap ngungsi!!"

Sebagai pendatang tentunya saya bingung bagaimana penduduk asli bisa bertahan tinggal di pulau terpencil yang apa-apa serba mahal karena tak punya lahan pertanian, padat penduduknya dan mempunyai ikatan erat dengan pulau ini sampai-sampai secara turun menurun mempunyai keinginan untuk tidak meninggalkan pulau yang kalo dikelilingi dengan mobil akan selesai kurang dari sejam ini.

Tapi masalah kecintaan mereka toh bukan urusan saya. Gunung Gamalama terakhir menunjukkan keperkasaannya tahun 90-an. Dan beberapa orang yang saya tanyai, mereka tak mengungsi namun malah menonton proses letusan Gunung Gamalama.

Pulau ternate yang sangat imut itu memang unik. Bayangkan ukurannya yang sangat kecil tapi yang dihuni oleh masyarakat hanya pada salah satu sisinya, yaitu sisi timur. Wilayah yang jarang di huni disebut dengan daerah belakang gunung. Dulu saya bingung, kenapa mereka lebih memilih tinggal berdesakan di sebelah timur daripada tinggal di sebelah barat.

Jawabannya ternyata mudah saja. Daerah yang jarang dihuni adalah jalur aliran lahar gunung gamalama! Dan wilayah barat pulau tentunya berhadapan langsung dengan lautan luas dan hal ini merupakan daerah yang (lebih rawan) tsunami dibanding dengan wilayah timur yang tertutup pulau halmahera.

Tulisan saya ini bukan hasil penelitian ilmiah lho ya... Ini cuman hasil ngobrol dengan penduduk asli yang sudah pada sepuh sembari main gaple!

Apa pengaruhnya setelah Gunung Gamkonora di Kecamatan Ibu, meletus?

Tiap pagi saya dengan mata masih ngantuk akan keluar rumah dan memandangi Gunung Gamalama dengan penuh pengharapan agar gunung tersebut tidak batuk. lalu merenung betapa bersyukurnya saya Gunung Gamalama masih baik-baik saja. lalu merenung lagi....

Ah kok saya makin suka merenung? Makin tua? Sehingga makin suka ngunduh kawicaksanan? Ayaaak, Gombal!!!


Labels:


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 2:05 PM   7 komentar

Bini: "Kok gak ngeblog? Sibuk pacaran lagi ya?"
Oke, saya memang lama sekali ndak ngeblog di sana-sini. Maksud saya, selain ndak ngeblog di internet, saya juga absen ngeblog di intranet instansi kantor saya. Sibuk sih enggak, tapi sibuuuuuuuuuuuuuk banget iya!

Belakangan bini juga nanyain kenapa ndak ada postingan baru. Lha saya kan ngungun alias bingung, wong ya komunikasi lewat ponsel lancar kok masih butuh jlentrehan abab saya dalam bentuk tulisan di blog?

Ternyata alasannya simpel. Kalo SMS atau nelpon saya ndak akan bisa ngeluarin kata-kata ndakik-ndakik tinggi apalagi romantis. Wong meski suami-istri kami ini punya julukan masing-masing yang hangudubilah noraknya. Panggilan kambing dan monyet kan gak ada romantis-romantisnya tho??

Oke saya ngeblog lagi.

Selain karena kesibukan saya juga lantaran jaringan internet yang belakangan susah sekali saya dapati. Sibuk apa sih saya?

Saya dan bala kurawa saya membentuk tim khusus yang terdiri dari para bujangan ataupun bujang geografis mempersiapkan moderenisasi kantor saya. Ke depan, secara bertahap semua kantor instansi saya bekerja akan ada embel-embel moderen. Dus kantor saya yang sekarang ini masih kantor tradisional.

Kenapa dipilih tim yang anggotanya bujang? Hal ini dilakukan karena kepraktisan saja. Ndak ada urusannya dengan gender lho ya, mbak? Sudah seminggu ini saya tinggal di kantor mengerjakan beberapa agenda menyambut persiapan moderenisasi tersebut. Bukan hal yang gampang.

Memaparkan data ternyata tak semudah yang saya bayangkan masa kuliah atau SMA dulu. Misalnya, jika saya seorang kepala desa lalu disuruh ngitung jumlah penduduk miskin selama beliau bertahta harusnya kan gampang saja tho? Tapi prakteknya ndak demikian. Ada etika birokrasi. Ini sih bisa-bisanya saya saja ngelambe dengan kata: etika birokrasi!

Nah, sebagai pembantu lurah saya harus memperhitungkan data yang akan saya paparkan nantinya tidak akan membuat Pak Camat marah ataupun Pak Bupati tiwikrama ngamuk kebakaran jenggot. Dus artinya saya harus membuat data tersebut nampak cantik.

Kata cantik di sini berarti jumlah orang miskinnya harus sesedikit mungkin. Namun tak selesai sampai disitu. saya juga harus memperhitungkan bahwa angka yang sedikit itu harus sudah termasuk angka fiktif yang nantinya akan menambah kantung harta Pak Lurah dari Tunjangan Beras Miskin. Itu baru satu contoh.

Namun saya bukan pegawai kelurahan. Silakan imajinasikan sendiri kira-kira kesulitan apa yang dihadapi oleh petugas pajak bodoh macam saya!

Eh sudah baca ini? Alhamdulillah akhirnya tunjangan kami naik. Banyak yang protes dan yang setuju tentunya cuman kami-kami ini. Yang protes tentu saja terlalu terbiasa melihat pegawai departemen keuangan apalagi pegawai pajak yang hidup serba mewah. Padahal di kantor saya jangankan mobil, wong sepeda motor dinas saja pada berebutan lho.

Artinya, nggak semua pegawai depkeu itu tajir! Bahkan saya sendiri sering nunggak mbayar listrik dan kontrakan. Begitu juga dengan pengalaman temen-temen sejawat saya di kota-kota lain. Ya buat kami-kami ini yang bersedia bekerja mengabdi di luar kota-kota besar sak-Endonesia tentunya kurang menarik buat para orang tua untuk dijadikan mantu.

Entah kemana saat ini kesan bahwa mendapat menantu Pegawai Pemda lebih baik nasibnya dari pegawai Depkeu. Hahahaha.. jika kawan saya yang barusan gagal nikah gara-gara masalah di atas mbaca ini, kacaulah saya!

Lalu apa timbal balik dari moderenisasi yang otomatis dibarengi dengan penambahan penghasilan? Harapannya sih profesionalisme dan kebersihan di tempat kerja. Ya beberapa teman di kantor moderen sering mengeluh karena semenjak beralih ke sistem moderen, mereka ndak bisa lagi memeras Wajib Pajak!

Komentar saya cuman: "Hah? Orang macam anda ternyata rakus uang juga?? Waduh!!". Lalu saya dapati rumah mewah rekan sejawat saya itu, mobil-mobilnya dan barang-barang lain yang tak saya miliki. Itu takkan bisa dia beli dengan gajinya seumur hidup. tapi dia bisa.

Lain lagi dengan teman saya yang justru sedikit mendapat hidayah (tanpa nonton sinetron Hidayah) lantaran masuk ke kantor moderen. Dia pernah sms: "kalo dengan penghasilan segini mah gue gak perlu nyari dari Wajib Pajak!!!". Lumayan positif-lah...

Saya percaya, bahwa sekeren apapun sistem dibuat oleh manusia tentunya ada loophole yang dimana akan tetap saja bisa menjadi celah bagi oknum yang kurang bertanggung jawab untuk melawan sistem. Itu lain soal... Toh ada sanksi dan punishment. Soal nanti sanksi jarang ditegakkan itu juga lain soal lagi.

Ya hidup memang tak hanya hitam dan putih saja. Ada banyak warna dan nuansa. Dan saya, insya Allah, akan tetap berusaha semeleh berserah diri dengan segala Ketetapan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah SWT! Aamiin....

Jadi tidak ngeblognya saya lebih karena kesibukan atau jaringan internet yang tidak mendukung. Bukan lantaran punya pacar baru!!!!


Labels: , , , , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 10:11 AM   5 komentar

Saturday, May 19, 2007
Cinta Ada Di Gorontalo
Akhirnya saya bertemu lagi dengan bini yang membuat saya niba tangi itu. Ini gara-gara tanggal merah hari kamis yang lalu bos besar saya di betawi memutuskan hari jumat yang merupakan hari kecepit nasional (harpitnas) bagi buruh lima hari kerja macam saya ini sebagai hari cuti bersama yang otomatis memperkosa saya agar jatah cuti tahunan saya disunat seenak jidat.

Berawal dari celetukan kepala seksi saya yang bilang: "mas, kalo sampeyan mbolos tiga hari (senen selasa dan rabu) maka sampeyan bisa pacaran sama istri sejak hari sabtu, minggu, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu di gorontalo... piye??"


Akhirnya saya berangkat juga, korupsi gede-gedean versi saya benar-benar terjadi. Saya bolos tiga hari!!!

Seminggu bersama bini bener2 bikin lemes, maksudku lemes dalam artian kesana kemari, ya bini memang punya hasrat mengajak saya ke berbagai tempat. Sehingga dengan berkendara motor kami keliling gorontalo dari objek bikinan Tuhan langsung atau yang pake perantara tangan manusia.

Aku mencintaimu, istriku!!!!

Sampai jumpa lagi!!!!!!!

Nah kayaknya blog ini bakal hiatus lagi... saya baru tiba sabtu siang di ternate, minggu siang besok saya sudah harus numpak pesawat menuju makassar selama seminggu. Jual beli abab di sana. Sing penting kan blogku wis ter-update. Puas????

Labels: , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:55 AM   14 komentar

Saturday, April 21, 2007
Eman-eman Wanita-nya Umar Kayam
Menyambut Hari Kartini, saya juga mau menuliskan tentang wanita. Namun berhubung akan sangat banyak orang yang menuliskannya, saya justru akan menuliskan salah satu esai milik Umar Kayam di buku Mangan Ora Mangan Kumpul yang merupakan kumpulan esai yang terbit mingguan di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Pengenalan singkat para tokoh akan saya buat seringkas mungkin. Umar Kayam yang diceritakan menjadi tokoh bernama Pak Ageng, mempunyai kitchen cabinet (begitu beliau menyebut keluarga yang membantunya untuk urusan pekerjaan rumah) yang terdiri dari Mister Rigen, Mrs. Nansiyem yang merupakan istri Mr. Rigen. Suami istri pembantu rumah tangga Pak Ageng ini diceritakan mempunyai anak bernama Beni Prakoso.

Silakan dibaca esai berjudul "Eman-eman Wanita" berikut ini. Mungkin ini postingan saya yang terpanjang. Harap sabar dan telaten.

Menunggu waktu makan siang pada hari Minggu kadang-kadang terasa amat panjangnya. Apalagi kalau tidak banyak yang kita lakukan pada waktu itu. Teve dengan acara rutin yang itu-itu saja, pekerjaan lemburan sedang kosong, utang penulisan makalah sudah lunas, tidak ada kawan yang datang untuk mengobrol. Maka sempurnalah kebosanan menguasai Minggu siang begitu.

Di dapur Ms. Nansiyem menggoreng tempe, Mr. Rigen sedang memarut kelapa, Beni Prakosa memetik daun bayem. Saya dapat menduga pastilah menu makan siang itu sayur bobor bayem, tempe goreng, sambel tempe bakar dan mungkin ayam goreng atau bandeng goreng. Hampir tidak mungkin mereka akan mencantumkan empal daging sapi pada siang itu. Wong tanggalnya sudah sangat tua bongkok, mana harga-harga di pasar sudah melangit. Melihat trio kitchen cabinet saya bekerja dengan rileks, terampil dan gembira begitu hati saya ikut senang juga. Apalagi suasana anatara mereka itu bolehnya rukun begitu, lho. Mongkok hati saya. Itu pertanda bahwa dari tubuh saya cukup kuat sinar wibawa, aura, yang mengayomi mereka memancar dengan kuatnya. Bukankah itu syarat utama bagi setiap orang yang ingin madeg menjadi raja yang baik?

"Kalian pasti sedang masak jangan bobor bayem. Dan tempe, dan sambel tempe bakar. Jangan lupa sambelnya diciprati minyak jlantah biar sedep dan gurih."

"Kok Bapak tepat sekali dugaannya, lho. Padahal pagi tadi Bapak tidak dawuh macam menu apa-apa, lho."

"Ya, apa susahnya nebak kalian masak pada tanggal tua begini. Kalian pasti tidak nggoreng empal to?"

"Wah, ketebak lagi, Pakne. Siang ini cuma nggoreng bandeng, kok, Pak."

"Nah, rak tenan! Ya sudah nggak papa. Asal jangan bobornya tidak kemanisan, sambel tempenya mlekoh jlantah-nya dan bandeng gorengnya kering."

"Sip, Pak Ageng. Siip." Dan si bedes cilik Beni Prakosa mengacung-acungkan jempolnya.

"Sip ki apa, Le?"

"Sip itu enak, Pak Ageng. Jangan bobol sip. Bandeng sip. Blongkos mboten sip."

Melihat Ms. Nansiyem cak-cek dengan terampilnya menggoreng tempe, menyaut sayuran lantas dicemplungkan ke dalam panci, menyaut lagi santan yang diperas suaminya dan keringat yang dleweran dari dahinya, sekali-kali menetes ke dalam lautan jangan bobor, tidak bisa lain bagi saya selain semangkin mengaguminya. Dapur memang wilayah kekuasaannya. Di situ dia dia menunjukkan wibawanya. Dan Mr. Rigen dan Beni Prakosa memang tak bisa lain selain menerima otoritas Ms. Nansiyem itu.

"Coba, Pak. Lari sebentar angkut jemuran itu. Kayaknya mau hujan itu."

Dan Mr. Rigen, direktur kitchen cabinet yang berwibawa itu, lari dengan tergopoh diikuti anaknya. Baru saja selesai melaksanakan tugas sang istri itu, datang lagi perintah yang lain.

"Cepat pergi ke Bu Arja, Pak. Beli lombok merah dan bawang merah buat nyambel. Beni nggak usah iku, di sini saja." Dan Beni yang sudah siap bonceng bapaknya mulai membik-membik mau nangis.

"Heisj, nggak usah nangis. Katanya sudah lebih tiga tahun!" Dan suara Ms. Nansiyem begitu berwibawa hingga tangis itu tidak jadi runtuh membasahi pipi anak kecil itu. Dan begitu Mr. Rigen datang, datang perintah berikutnya.

"Cepet ulek sambelnya, Pak. Tahu-tahu kok sudah siang, lho. Sida kapiran tenan, Bapak ini nanti."

Saya yang duduk di kursi rotan di gang dekat dapur merekam itu semua dengan asyik. Dalam bulan ini sudah dua hingga tiga kali saya terlibat dalam pembicaraan tentang hak asasi wanita, jam kerja wanita, upah wanita, tidak adilnya masyarakat memperlakukan wanita. Melihat gerak-gerik dan nada dan irama Ms. Nansiyem menguasai dunia perdapuran, suami dan anaknya, makalah yang bagaimana lagi yang bisa ditulis tentang wanita?

"Ms. Nansiyem!"
"Dalem, Pak!"
"Kowe tahu arti emansipasi wanita?"

"Apa, Pak?"

"E-man-si-pa-si wa-ni-ta."

"Oo, eman-eman wanito, to, Pak. Lha, ya sepantesnya dieman-eman to, Pak., tiyang wedok niku...."

"Heesy, Bune, Bune. Mbok kamu jangan keminter, sok pinter, gitu, to. Matur bares, terus terang, sama Pak Ageng. mBoten ngertos, Pak."

"Nah, rungokna, dengarkan baik-baik...."

Maka sebagai pembela hak asasi wanita, sebagai pengagum wanita, saya pun lantas menjelaskan apa makna emansipasi wanita itu. Pokoknya saya jelaskan kalau emansipasi itu artinya bebas dari belenggu penindasan. Penindasan siapa? Tentu penindasan suami, penindasan keluarga sendiri. Perempuan selalu disia-siakan, wong wedok disia-sia, diperlakukan tidak adil. Dan sebagainya lagi.

Selesai menjelaskannya begitu saja diam. Mengamati wajah trio anggota kitchen cabinet itu. Mereka menatap saya dengan wajah melongo. Mungkin sedang mencoba mencerna kuliah saya yang sangat bermutu dan canggih itu. Ah, mereka tidak menyadari bagaimana beruntung mereka punya majikan priyayi Korpri, elite birokrasi seperti saya. Tidak semua pembantu dapat privilese keistimewaan, mendengarkan kuliah yang begitu bukan? Kuliah yang akan membuat mereka batur-batur yang progresif dan berwawasan luas! Tiba-tiba seperti orang yang baru lepas dari hipnotis mata mereka membelalak melihat kepada wajan di kompor. Asap mengepul. Bau gosong.

"Matik aku, Pakne. Bandenge gosong, bandenge gosong. Cepet, cepet, angkat, Pakne. Minyaknya dibuang, wajane digrujug air!" Dengan sebat trio saya itu cak-cek membereskan krisis sebentar itu. Bau asap gosong memang masih terasa, tetapi suasana sudah mulai tenang kembali. Celaka, sedikitnya ada empat bandeng yang menjadi areng, gosong. Malam nanti makan apa?

"Pripun kalau begini, Pak."

"Lho, kok pripun?"

"Gara-gara Bapak ndongeng ngeman-eman (menyayangi) wanito bandengnya gosong sedaya. Bukan salah saya, bukan salah saya, Pak." saya tertegun melihat rasa bersalah menguasai wajah Ms. Nansiyem.

"Terus nanti malam Bapak harus dahar apa, coba? Tanggal tua anggarannya sudah menipis? Makanya kalo orang baru kerja itu, Bapak jangan ngganggu, to. Lenggah saja sing eca. Sudah, nanti malam manggil sate saja, nggih!"

Wah, di depanku bukan lagi Ms. Nansiyem anak buah Mr. Rigen dalam kitchen cabinet. Di depanku adalah Madam Rigen yang ambil inisiatif merigenkan semuanya. Dan kami yang ada di depannya manggut-manggut manut beliau belaka.

Eman-eman wanita, eman-eman wanita. Eman-eman bandenge gosong sedaya.... (sayang bandengnya gosong semua)

22 Desember 1987

NB: Seperti halnya salah satu episode film kartun Spongebob Squarepants, dimana terjadi perdebatan sengit tentang siapakah yang paling hebat antara hewan darat dengan hewan laut. Pada akhirnya akan sia-sia mendebatkan itu. Kenapa tak mencoba berjalan beriringan saja?

Lagian, ngeman-emani wanita yang kita sayangi kan suatu keistimewaan sendiri tho? Eman-eman kalo tidak di eman-emani!!! (Sayang kalo tidak disayangi)

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 2:44 AM   11 komentar

Friday, April 20, 2007
Warung Padang "Ojo Lali"

Kemarin, ditemani junior saya, saya menyantap makan siang di sebuah warung makan yang cukup aneh. Kadar keanehan memang beda-beda bagi tiap orang tapi menurut saya hal ini cukup aneh sehingga harus saya masukkan ka dalam blog ndak jelas ini. Lagipula blog ini kan memang berisi hal-hal yang ndak jelas.



Jika sampeyan lihat gambar di atas ini dan bisa membaca kata demi kata yang tertera di spanduk milik warung makan yang saya maksud akan melihat betapa Endonesia sudah menjadi bangsa yang cukup toleran. Minimal di bidang kuliner kita sudah cukup toleran.

Ya bagaimana kami ndak tertegun di depan warung membaca tulisan "Warung Ojo Lali, Masakan Padang"? Wong biasanya warung padang itu bernama "bundo kanduang", "minang putra", "simpang tiga" atau lainnya. Lha ini kok bernama "Ojo Lali"???

Benarlah dugaan kami begitu kami memasuki warung tersebut langsung mendapat uluk-salam dari mas-mas yang menjaga di pintu depan dengan kalimat: "Monggo mas...". Jelas ini bukan orang padang.

Yang bikin heran adalah: Apakah masing-masing dari kita dibekali dengan aplikasi pengenalan wajah yang ber-output sangat SARA? Beberapa kali saya menjumpai kalimat seperti: "ini dilihat wajahnya pasti orang jawa" atau malah yang parah: "Kalo dilihat wajahnya sih paling bukan muslim..". Tapi untuk kali ini Mas yang menjaga warung "Ojo Lali" ini patut mendapat nilai seratus mengenali daerah asal kami.

Setelah duduk di salah satu meja, kami makin terheran-heran betapa dalam daftar menu tersebut telah terjadi kawin silang antara masakan padang dan masakan jawa. Ini tentunya bukan sembarang strategi marketing. Dimana diharapkan warung tersebut bisa menjaring penggemar dua jenis masakan sekaligus.

Dan yang paling menarik buat saya adalah di jajaran menu tersebut menyembul sebuah masakan yang saya sukai dan kangeni lantaran sangat jarang ada di ternate. Masakan yang di jawa disebut urap (kalo banyumas menyebutnya dengan kluban) ini setelah saya cicipi ternyata mak nyuss. Sangat mirip dengan masakan ibu saya.

Fuad, teman makan saya kali ini mulanya takut mencicipi urap tersebut akhirnya mau mencobanya setelah saya bilang bahwa masakannya khas jawa dan bukan dimasak dengan metode ternate. Sehingga cita rasa njawani-nya tetap terasa.

Akan halnya masakan padang yang disediakan, berdasarkan rendang yang saya makan, dapat disimpulkan masakannya sangat padang! Dan sambalnya bener-bener bikin tobat, tobat sambal tentunya!

Kawin silang di bidang kuliner sangatlah banyak. Di Ternate saja penjual martabak bandung dan bangka adalah orang-orang dari sumatra barat. Penjual masakan padang banyak yang ternyata berasal dari solo. Penjual coto makassar ternyata banyak yang berasal dari Lamongan atau Pasuruan.

Hal di atas mungkin tak begitu aneh buat sebagian orang, tapi kalo warung padang yang nekat memakai nama jawa, ini baru aneh!

Bagaimana di tempat sampeyan?

Gambar: diambil menggunakan kamera ponsel Motorola V3

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 9:38 PM   8 komentar

Wednesday, April 18, 2007
Makin berat saja tanpamu, neng!
Kunjungan bini minggu lalu sangat memberi kesan yang mendalam buat saya. Jelas lah. Kapan lagi saya makan masakan bikinan dapur sendiri? Sudah dilayani urusan makanan tentu saja ada pelayanan khusus lainnya yang ehem ehem... Maksud saya ya ada yang nyiapin baju ngantor lah atau mbenerin atap yang bocor lantaran ketiup badai kemarin dulu.


Bini atau dalam bahasa jawa disebut dengan garwa yang merupakan singkatan dari sigaraning nyawa alias belahan jiwa ini memang bener-bener menyebalkan. Saat-saat saya bareng dia kemarin apa yang biasanya lumrah saya lakukan selama menjadi bujangan geografis kok ya salah melulu di mata beliau.

Contoh, kebiasaan leyeh-leyeh sehabis makan bener-bener dicoret dari kehidupan saya sebagai seorang sloth ganteng van ternate. Atau kebiasaan pipis di depan rumah menghadap langsung ke gunung gamalama jelas menjadi ritual yang haram untuk dilaksanakan atas nama penghormatan kepada bini.

Bangun kesiangan juga gak mungkin selain memang ndak baik dilihat dari sisi kinerja saya sebagai babunegara, bangun pagi membuat saya punya sedikit kesempatan buat yayang-yayangan dengan bini tho? Hehehehe...

Makan telat? Wooo kebiasaan jahiliyah itu jelas akan membuat bini saya njenggureng dan wajah manisnya akan berubah menjadi sedikit mirip farida pasha marah tanpa make-up khusus untuk perannya di sinetron mak lampir. Ya bini kan sudah capek-capek masak, mosok saya malah lelet dalam urusan makan?

Pokoknya bini bener-bener mengacaukan kebiasaan primitif saya. Tapi yang namanya bini, biarpun lagi capek kayak apa juga saya coba untuk selalu nurutin permintaannya keliling pulau ternate atau sekedar keliling kota dan ndeso ternate.

Setelah bini kembali ke gorontalo, baru terasa benar arti seorang bini. Garwa yang bisa juga berarti Manungaling sing sigar lan sing dawa (tak akan saya tulis terjemahan dalam bahasa indonesianya!! hehehe), biar cerewet, biar merepotkan, biar melelahkan dan kadang menjengkelkan, tapi begitu dia ndak ada weeeee sepine, rek!

Untuk kembali menikmati segala ritual jahiliyah macam leyeh-leyeh sehabis makan juga terasa ndak enak lagi. Tapi untuk mencoba melakukan kegiatan yang kemarin-kemarin dilakukan berdua dengan bini juga ndak semangat.

Apalagi untuk urusan yang satu itu, lucu kalo aneh-aneh di atas ranjang. Hahaha... (santai, pembaca blog ini kan kebanyakan sudah tuek-tuek atau yang masih muda tur jomblo, jadi aman!)

Kesan yang paling mendalam adalah: ternyata saya sangat mencintai istri saya!

NB: istriku, tadi sore aku ke pasar! seperti yang kemarin kita lakukan berdua. Tapi aku tak menemukan apa-apa yang akan kumasak, aku males lagi... Aku kangen masak bareng lagi!

Foto: Koleksi Pribadi

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 6:08 AM   13 komentar

Saturday, April 14, 2007
Buncitnya Saya dan IPDN

Walau telat tetap toh saya akan menulis menanggapi kasus yang lagi ramai di televisi dan media massa lain. Kasus IPDN memang ternyata bukan sembarang kasus. Bayangkan jika saat kasus itu merebak saya mencoba menghubungi salah seorang kenalan di sana lalu jawabannya adalah: "Plis, ojo takon sik yo.... Tunggu keadaan stabil dulu nanti baru kuceritain semuanya!"

Apa gak gawat kalo sampai begitu? Wong yang bikin Cliff Muntu mati ya bukan dia kok ya temen saya itu ketakutan? Segitu tingginyakah loyalitas para penghuni IPDN dari praja sampai para staf dan karyawannya??



Setelah kasus meninggalnya Cliff Muntu merebak, beberapa orang menanyakan pada saya lewat SMS tentang apakah kondisi sekolah kedinasan semuanya begitu? Salah satu penanya malah katanya punya adik yang sekolah yang khusus belajar tentang ikan tapi pake gaya militer, sehingga beliau bertanya apakah kampus saya dulu itu juga begitu...

Saya bingung bagaimana cara menjawabnya. Bukan lantaran ndak ada jawaban tapi biar jawabannya singkat padat dan jelas gitu loh! (penggunaan kosa kata "gitu loh" dimaksudkan agar pemilik blog terkesan gaul)

Lalu melihat kenyataan bahwa kebanyakan mahasiswa STAN mempunyai perubahan yang ekstrim semenjak kuliah menjadi manusia berperut besar, dan hal ini akan lebih ekstrim lagi saat masuk di dunia kerja maka saya jawab dengan kalimat:

"Ndak ada begituan di STAN kok. Buktinya perut kami pada buncit, wong ndak pake seragam press body apalagi push up! Dan di kampus kalo ada senior petantang petenteng mukulin orang lain (ndak harus junior) yo disikat saja... siapa takut?"

Saya menolak kekerasan berlebihan berkedok pendidikan dan pembelajaran. Saya menggunakan kata "kekerasan berlebihan" karena kadang untuk membentuk karakter memang dibutuhkan kekerasan. Itulah mengapa ibu saya memukul saya (pelan) dengan kemoceng jaman kecil dulu kalo saya males shalat.

Kekerasan di IPDN memang memilukan dan lebih lagi lantaran setelah hal itu terjadi ternyata bukannya membenahi diri tapi malah sibuk menutup diri.

Kalo ingat banyolan jaman kuliah dulu saya inget, mahasiswa STAN selalu ngeluh dengan kondisi kampus yang sangat meilukan. Wong bangku kuliahnya saja ada yang dari tahun 60-an. Jauh banget dibandingkan dengan kampus IPDN yang wah sekali itu. Dan anak STAN juga dikenal akrab dengan lingkungan sekitar, ndak heran kalo banyak yang lantas mendapat jodoh dengan penduduk sekitar.

Seorang kawan bilang: "Yo jelas... kampus kita kan pencetak calon pegawai keuangan, nah negeri kita kan miskin maka kampusnya harus mencirikan itu...."

Dulu saya pernah ingat kalo anggaran untuk kampus saya itu (tahun berapa ya, lupa) cuman lima miliar sedang STPDN saat itu jauh di atasnya. Makanya di STAN ndak heran lagi kalo jatah bukunya harus giliran dua orang satu buku. Kampus kere tenan...

Tapi ya itu... Saya kagum dengan penampilan praja-praja IPDN yang tegap dan kekar-kekar. Kalo almamater saya mah.. hehehehehe... jangan tanya! (makanya saya heran waktu ada teman yang bilang kalo pemukulan para praja junior itu salah satu manfaatnya adalah agar perutnya rata, PERLU DICOBA!!)

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 3:20 AM   26 komentar

Friday, April 13, 2007
Bujang Geografis Is Back!
Tentunya sedih merajai diri saya dan istri saya saat ini. Semoga gemuruh suara mesin pesawat yang saat ini tengah dinaiki istri saya mampu meredam gemuruh kesedihan di hatinya. Ya, lagi-lagi kami terpisahkan. Ruang dan waktu benar-benar menempatkan kami sebagai pecundang. Kalah dan selalu dikalahkan. Hari ini dengan pesawat merpati istri saya kembali ke pulau sulawesi. Hiks.

Tapi bukankah ini selebrasi cinta kami tho? Di tengah jutaan pasangan lain yang mangkin jenuh lantaran ketemuan terus sampe merasa enek, kami mungkin pasangan yang beruntung lantaran masih dipisahkan laut. Ya, ini merupakan uji kepandaian kami dalam bersyukur.

Banyak cinta untuk saya dari istri saya. Dua minggu dia tunjukan semua itu. Cintanya bukan cinta yang berkobar-kobar bagai api yang merusak, tapi membara yang menghangatkan. Pelan tapi punya tujuan.

Cinta. Kami masih punya itu. Bukan hal yang baru tho jika di Endonesia ada suami yang membakar istrinya padahal baru sebulan menikah misalnya. Tapi kami masih punya cinta dan kesabaran. Dan itu hal yang indah.

Jangan menangis lagi istriku. Aku masih ada. Dan terima kasih atas segalanya. Kini, aku kembali ngeblog. Bacalah!!!!

Apa kabar semuanya????

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 9:20 PM   9 komentar

Wednesday, April 04, 2007
LIBUR LEMBUR-LEMBURAN NGANTOR
Berhubung istri saya lagi berkunjung ke ternate, maka untuk sementara saya ndak bisa ngeblog. Sibuk! Halah.....

Maklum... saya ngeblog kan menggunakan fasilitas ngantor dan dilakukan hanya diluar jam ngantor. Jadi ndak bisa no kalo saya harus nongkrong di kantor malam-malam sementara bini nungguin di rumah. Mohon dimengerti...

Salam. (senyum kemenangan)

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 11:44 PM   12 komentar

Saturday, March 31, 2007
Setahun Ngeblog! Go Blog!
Dari iseng-iseng saat pekerjaan belum banyak. Dari pelampiasan rusaknya blog di friendster. Dari kebutuhan akan sarana ngeluarin unek-unek yang mungkin susah jika diperbincangkan dengan istri di telpon. Hadirlah blog ini. Diawalin dengan postingan tanggal 26 Maret 2006 yang berisi tentang perkenalan saya ngeblog di blogspot. Ndak lucu meski mencoba untuk itu. Tidak juga keren. Biasa saja. Lebih condong jelek.

Setahun sudah umur blog ini. Tetap ndak bermutu. Tidak meningkatkan intelektualitas, IQ apalagi keimanan. Lucu pun tidak. Jan, saya juga bingung, apa gunanya blog ini selain sebagai alat pelampiasan unek-unek saya. Entah apa.

Banyak jajaran blog yang keren-keren baik dari segi desain atau isi. Mulai dari yang politik atau sosial, atau murni blog waton guyon, atau kombinasi keduanya. Mulai dari yang tenar lantaran si pemilik blog itu cakep luar biasa sampai blog yang sepi pembaca meski sudah dibela-belain nyuri foto di friendster (entah punya siapa) untuk dipajang sebagai avatar. Entah dimana posisi blog saya ini..

Setahun ngeblog disini saya hanya menulis 174 tulisan ndak bermutu. Tidak produktif kalo dilihat sebagai blogger karena bisa diasumsikan saya hanya menulis satu kali dalam dua hari. Tapi kalo dilihat sebagai fiskus, saya juga tidak produktif, karena bukannya kerja dengan tekun saya malah ngeblog. Ya saya manusia yang tidak produktif baik dari segi iseng maupun seriusan.

Banyak kawan yang saya dapat dari ngeblog. Tak usah disebutkan satu-satu. Karena satu-satu aku sayang ibu! Senang rasanya bisa mengenal banyak orang hebat (versi saya). Berteman tanpa pernah tatap muka. Saya senang. (lho kalo gini saya OS donk? Om Senang?)

Semoga saya masih tetep bisa ngeblog nyuri-nyuri waktu di sela pekerjaan yang makin menumpuk. Mengutip puisi Chairil Anwar, "Aku masih ingin ngeblog 1000 tahun lagi!"

Salam!

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 4:32 PM   12 komentar

Hidup ini ya cuman adu kuasa
Hari jumat kemarin saya chat dengan seorang kenalan yang bekerja satu instansi dengan saya namun beliau ada di pulau jawa yang konon gemah ripah loh jinawi itu. Awalnya sebatas mbahas kesibukan masing-masing berhubung sekarang kantor kami sama-sama sibuk menyambut pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Masa Pajak 2006. Tapi chat itu berakhir keruh.

Kekeruhan itu dimulai saat saya mbahas tentang kelakuan orang-orang kantor saya yang sebenarnya berseberangan dengan idealisme saya namun toh saya merasa berkewajiban membela mereka lantaran kata-kata teman chat saya itu keterlaluan.

Saya: "Mas, kalo disana banyak dukun gak?"

Dia: "Maksudmu pegawai pajak yang buka praktek jadi konsultan pajak gelap yang tugasnya membuat Laporan Pajaknya Wajib Pajak gitu?"

Saya: "Ya...."

Dia: "Wah!! Disini sedikit, selain malu dan gak profesional juga ngapain begituan sih? Toh duitnya gak seberapa... Kalo di situ gimana, Pi'i?"

Saya: "Banyak, mas... malahan hampir semuanya..."

Obrolan lalu bertambah sengak.

Dia: "Weh kok orang-orang kantormu pada rakus semua? Apa ndak cukup sabetan dari yang lain-lain?"

Saya: "Wah setahu saya sih dibandingin kantornya mas disini amat teramat jarang yang bisa disabet."

Dia: "Mosok sih?"

Saya : "Betul... lha dibanding betawi kayak kantor sampeyan, ternate itu kan ndak ada apa-apanya tho? Mau nyabet sekelas kantor sampeyan? Wooooo..."

Obrolan makin memanas.

Dia: "ya ndak, aku heran saja wong disana ya kebutuhan kan ndak begitu banyak macemnya, paling-paling cuman kebutuhan pokok saja. Lha katamu ndak ada mall, hipermarket lho... Jadi penduduk ternate ya ndak punya kebutuhan akan entertainment terlalu banyak dibanding penduduk jakarta."

Saya: "Weh! Apa bener sih orang jakarta mikirnya begitu doank? Tiap ada pejabat betawi kesini komentarnya selalu begitu. Memang ndak ada mall, memang ndak ada kafe-kafe mewah atau apalah buat nongkrong buang duit tapi mereka selalu tutup mata saat dikasih tahu kalo harga kacang panjang itu seribu rupiah per batangnya! Jadi biasanya satu ikat kacang panjang berharga lima ribu rupiah dan hanya berisi lima batang!!!!"

Dia: "Pokoknya orang-orang kantormu sontoloyo!"


Ya, seorang koruptor akan mentertawai pencuri ponsel yang dimassa lantaran ketahuan tho? Seperti halnya cowok ganteng yang naksir wanita yang sudah punya pasangan akan menggunakan tag line: "ayolah, apa saya kurang ganteng? kurang apa saya dibanding dg pacarmu sekarang?"

Sampeyan demen acara empat matanya Tukul Arwana? Mas Yayan pernah mbahas, jangan-jangan itu arogansi kita lantaran dalam hati merasa: wah ada juga orang yang lebih jelek dari kita, dan harus jual kejelekan sedemikian rupa untuk makan.

Kita hanya bisa ngece, ngece dan ngece. Tukul dalam mengisi acaranya yo cuman diisi dengan umpatan terselubung. Memang baik kalo dilihat dari sudut pandang orang kecil bisa juga ngerasani yang lebih mapan. Tapi yang nonton acaranya tukul ya bukan cuma orang kecil. Orang kecil ngumpat sekali, orang gede ngumpat dua kali dengan kualitas dua level di atasnya.

Jadi, jangan heran! Takutnya jika ternyata orang yang pada korupsi gede-gedean itu sebenarnya takut kalo korupsi kecil-kecilan akan dihina koruptor yang lebih kakap. Gengsi donk??!! Pada akhirnya menghina saja akan membentuk mata rantai yang mirip birokrasi.

Hehehe... dengan begini banyak juga ya yang bisa saya hina semena-mena!!! Puas? Puas? Puas?

NB: Gambar diambil dari sini

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 4:32 PM   2 komentar

HALAMAN|DEPAN

 

TEMPAT|CUAP-CUAP

 

nama :
rumah :
omongan :
 
:) :( :D :p :(( :)) :x

TULISAN|SEBELUMNYA

ARSIP|LAMA

 

 

 

| Pengunjung | Feeds | Technorati | Oggix | Photobucket | Imageshack.Us | Kampungblog | Blogger | Blogfam | RSS | Kelakuan |

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia