babunegara works with microsoft forntpage

jjjjj

 

babunegara ngeblog!: Gak lucu atau mencobanya. Gak mutu atau maksain untuk itu. Bukan terobosan hebat karena blog ini hanyalah bukti saya lebih sering nganggur dibanding pegawai lain.

bangpay: Seorang anak, suami, kakak, sahabat dan rekan kerja. Tinggal dan bekerja di Ternate sebagai priyayi KORPRI di sini. Pecinta oblong, celana setengah tiang dan topi yang hidup bagai kecoa.

 

make|blog|not|war

 

profil bangpay

langganan pake RSS? (opo kuwi?)

 

 
 
Saturday, March 31, 2007
Makhluk Sialan Bernama Birokrasi
Banyak sekali yang bertanya kenapa pula istri saya tidak pindah saja ke ternate menemani saya. Jujur, lama-lama pertanyaan itu menjadi semacam intimidasi buat saya. Mungkin buat kawan-kawan saya ada yang mulai berpikir bahwa sebenarnya istri saya itu ndak pingin pindah ke ternate lantaran terlalu terpencil. Tidak, bukan itu.

Mari kita bicara tentang birokrasi. Bicara tentang usaha memindahkan istri saya artinya harus berbicara tentang birokrasi. Istri saya juga seorang PNS. Dus, harus melewati birokrasi untuk mengurus surat kepindahannya mengikuti saya. Dan itu tak mudah, sodara-sodara. Harusnya sih mudah, apalagi secara teori.

Kemarin istri saya nangis sesenggukan mengadu kelakuan orang-orang yang dikenalnya secara pribadi yang telah keterlaluan merobek-robek kepercayaan istri saya itu.

Ceritanya banyak, yang paling up-to-date adalah ketika istri saya (sekali lagi) mengurus kepindahannya. Konon berkas-berkas itu harus dikirim ke jakarta. Saat dia hendak mengirimnya melalui jasa pengiriman barang agar cepat sampai, salah satu BOS-kecilnya bilang:

"titipkan saja padaku agar berkas itu bisa lebih cepat sampai ke betawi karena daku juga hendak pergi kesana ada urusan dinas??"

Istri saya langsung setuju, toh bapak itu baik. Yang terjadi kemudian adalah setelah hari itu berlalu sekian lama, istri saya bingung lantaran belum ada kabar pindah juga. Ternyata berkas-berkas yang sedianya dititipkan masih ada di laci BOS kecilnya itu. Dan tak ada penyesalan apalagi permintaan maaf dari beliau setau saya.

Tak banyak alasan yang bisa dipakai bagi seorang PNS untuk pindah tempat kerja diluar mutasi regulernya. Lain jika kita bicara PNS pemda, saya tak tahu terlalu banyak soal itu. Tapi tentang PNS pusat macam saya, mutasi istri dengan alasan ikut suami bertugas adalah hak yang wajar. Ndak ada yang aneh dengan itu.

Beberapa hari lalu konon di tingkat kanwil manado, SK mutasi istri saya tinggal ditandatangani. Lumayan lega mendengar kabar itu. Ternyata, wooo semprul! Bagian kepegawaian berujar gak jelas bahwa istri saya harus nunggu ada pegawai dari ternate yang mau pindah ke gorontalo dulu agar bisa terjadi pertukaran pegawai.

Busyet!!! Ini mutasi pegawai bung! Bukan pertukaran pelajar!!!!

Teman saya bertanya, apakah hal ini terjadi lantaran tidak ada uang di dalam berkas istri saya? Saya katakan: "Iya, tak ada uang sabun, uang rokok atau uang apapun!"

Maklum, saya dan istri saya ini suka sok anti KKN sehingga berprinsip: "Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang". Ya, saya lebih iklhas kepindahan istri saya tertunda jika alasan penyebab itu semua adalah karena saya dan istri saya tak memberi uang rokok atau uang pelicin!

Serumit inikah birokrasi kelas coro di Endonesia??? Sampeyan tentu tahu, bikin KTP saja rumit. Apa-apa kok dibikin susah, pantas saja Endonesia susah sukses....

Saya jadi inget film Hitchhiker's Guide To The Galaxy di situ ada tokoh ras alien bernama bangsa Vogon yang dijabarkan dengan sifat sangat birokratis. Dalam film bahkan dijelaskan seberapa birokratis mereka dengan kalimat:

Vogons. They are one of the most unpleasant races in the galaxy. Not actually evil, but bad-tempered, bureaucratic, officious, and callous. They wouldn't even lift a finger to save their own grandmothers from the ravenous Bug-Blatter Beast of Traal without orders signed in triplicate, sent in, sent back, lost, found again, queried, subjected to public inquiry, lost and finally buried in soft peat for three months and recycled as firelighter. On no account should you allow a Vogon to read poetry to you.

Saya cuman bisa senyum kecut membayangkan hari-hari saya yang akan lebih panjang, gersang dan sepi tanpa istri saya. Setan alas tenan!!!

Seorang kawan lagi berujar:

"Ayolah... dengan friend circle-mu mosok kamu ndak bisa nelpon betawi buat ngasih pelajaran ke orang sialan di kepegawaian itu???"

Tidak. Saya tak mau... biar saja. Anggap saja orang itu sedang menghalangi seorang istri yang hendak menemani suaminya, mengabdi padanya, dan menjadi makmum dalam setiap shalat suaminya. Sampeyan tahu, pejabat mana yang berhak menghukum orang itu tho???

Buat istriku, sabar... sabar.... Ojo nangis terus....

Gambar marvin diambil dari sini

Labels: , , , ,

ditulis oleh bangpay @ 8:18 AM  

11 Komentar:
Post a Comment
Teras Rumah
 

HALAMAN|DEPAN

 

TEMPAT|CUAP-CUAP

 

nama :
rumah :
omongan :
 
:) :( :D :p :(( :)) :x

TULISAN|SEBELUMNYA

ARSIP|LAMA

 

 

 

| Pengunjung | Feeds | Technorati | Oggix | Photobucket | Imageshack.Us | Kampungblog | Blogger | Blogfam | RSS | Kelakuan |

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia