babunegara works with microsoft forntpage

jjjjj

 

babunegara ngeblog!: Gak lucu atau mencobanya. Gak mutu atau maksain untuk itu. Bukan terobosan hebat karena blog ini hanyalah bukti saya lebih sering nganggur dibanding pegawai lain.

bangpay: Seorang anak, suami, kakak, sahabat dan rekan kerja. Tinggal dan bekerja di Ternate sebagai priyayi KORPRI di sini. Pecinta oblong, celana setengah tiang dan topi yang hidup bagai kecoa.

 

make|blog|not|war

 

profil bangpay

langganan pake RSS? (opo kuwi?)

 

 
 
Thursday, July 26, 2007
Pejabat Coret Mental Gembel
Kadang saya bingung dengan diri saya (tentu saja orang lain pun sering bingung tentang saya). Di satu sisi kadang kalanya saya anti dengan hal-hal yang bersifat darurat, tapi saya juga sering kali bertingkah macam gembel. Percaya atau tidak saya sering sekali tidur di kantor. baik sekedar untuk lembur atau memang lagi ndak mau pulang ke rumah (toh saya ini bujang geografis).

Saya kok jadi sering ngelamun, seandainya saya kerja di hotel tentunya minimal bisa menikmati kasur yang enak di kantor sendiri. Ah sekedar angan-angan.

Bagaimanakah saya tidur di kantor saya?

Tentunya di kantor saya tidak ada yang namanya tempat tidur. Jadi tidur di kasur sudah sangat jarang saya lakukan. Jika saya dipasrahi kunci ruang server tentunya akan nikmat karena bisa molor di atas karpet (agak) tebel dan AC yang sejuk. Kalo tidak?

Kantor saya ini kantor darurat, karena bangunan yang lama sedang di bangun kembali setelah dianggap tidak layak untuk digunakan. Nah di kantor sementara yang dulunya bekas minimarket ini, tak ada musholla! Ya, kantor memang dekat dengan masjid jadi buat apa bikin mushola. Nah biasanya kan (dimana-mana) yang namanya musholla kantor akan menjadi tempat pelarian paling nyaman untuk tidur-tiduran siang meluruskan pinggang meski sudah ada larangan tidur di situ.

Jadi di kantor saya tidur beralaskan kardus bekas, potongan karpet sisa atau bahkan kertas koran bekas!!!!

Alhamdulillahnya saya dianugerahi kemampuan untuk tidur dimana saja (mengingat saya pernah ketiduran di kamar mandi) jadi tidur di kantor tetap ada nikmat-nikmatnya buat saya.

Dimana tho nikmatnya mas?

daripada ketiduran dengan posisi duduk, tidur di atas koran tentunya akan lebih nikmat. Daripada insomnia kayak hobinya bini saya, tidur di atas kursi lipat yang disusun sedemikian rupa tentunya bagaikan mukjizat!

Omong-omong soal tidur dengan kursi lipat, postur tinggi tubuh saya ternyata bisa muat tidur dengan nyaman hanya dengan dua buah kursi lipat!! Sebuah prestasi membanggakan? Tidak juga, namun saya seringnya suka senyum-senyum geli memikirkan betapa baiknya Gusti Allah sama saya....

Bagaimana tidur sampeyan tadi malam?


Labels: , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 1:21 PM   2 komentar

Friday, April 20, 2007
Saya VS Uang Plastik
Siang itu sehabis bersantap siang, saya yang ngetem di meja kerja saya, dengan melipat tangan saya tidur-tidur ayam. Jam istirahat siang memang belum usai tapi tak ada tempat yang saya tuju sehingga meja adalah tempat yang senyaman ranjang di rumah. Orang kantor masih sepi hanya beberapa bujangan yang memang tak perlu pulang ke rumah -toh ndak ada yang menunggu- tengah bermain game di depan PC masing-masing.

Saya tengah bermimpi indah. Dalam mimpi itu saya tengah menlepon Tamara mBlezeki. Saya tengah menghiburnya di tengah kemelut keluarga yang ia hadapi. Tiba-tiba jaringan ponsel error. Suaranya terdengar jelas namun kayaknya suara saya tak bisa didengar oleh Tamara. Dia memanggil-manggil nama saya.


"Mas!!! Mas!!! Mas......."


Aaarrgghh.. Rupanya cuma mimpi. Saat membuka mata, bukannya Tamara yang membangunkan saya dengan suara 1 oktaf lebih melengking dari tukang minyak keliling. Namun seorang mbak-mbak berbaju rapi dan di tangannya penuh kertas brosur.

"Maaf, mas...! Maaf saya mengganggu sebentar"

Roh saya yang baru terkumpul setengahnya hanya memasang pandangan bengong sambil sibuk mengelap air liur saya yang kemana-mana. Lalu saya tanya ada apa sih kok tega mengganggu siesta saya kali ini.

"Mas, maaf... kok kantor sepi ya? Kebetulan saya dari Bank Kura-kura mau mengadakan promosi kartu kredit"

"Waduh mbak.. Jam segini ya pada pulang, setengah jam lagi baru pada datang!!"

"Oh! Kalo begitu saya tawarkan ke mas saja"

"Waduh! Bukannya apa-apa, mbak... saya ndak tertarik punya kartu kredit, soalnya hutang kok dibikin prestisius dan berkelas, kata ibu saya yang namanya hutang ya hutang."

"Lho Mas salah! Kartu kredit memang kalo sekilas mirip dengan hutang tapi dilihat dari kegunaannya akan sangat membantu mas, apalagi banyak barang yang di jual di toko yang akan mendapat potongan harga jika menggunakan kartu kredit kami."

Saya tahu itu. Lagian buat apa kejebak diskon jika kita tahu harganya sudah dinaikkan terlebih dahulu? Namun si mbak-mbak ini menjelaskan detil kegunaan kartu ATM seolah-olah saya ini monyet yang sedang dikenalkan dengan benda bernama celana. Saya cuman menangkap sedikit dari kata-katanya, maklum saya masih ngantuk.

Setelah lima belas menitan menjelaskan, mbak itu akhirnya melakukan penutupan dengan kalimat:

"Jadi gimana, mas? Mo aplikasi sekarang?"

"Eh... Opo? Aplikasi opo, mbak??"

"Kartu Kridit Mas...."

Saya lalu bercerita tentang konsumen sebenarnya sangat dicurangi dalam penghitungan bunga bank. Saya tahu akuntansi, saya tahu trik agar nominal suku bunga kecil namun kalo dilihat dari jumlah uang yang harus dibayar akan sangat besar. Ya, sekejam-kejamnya penipuan kan penipuan yang dimana si korban tak sadar kalo tengah ditipu.

Sebenarnya antipati saya terhadap uang plastik itu benar-benar menggelegak lantaran beberapa malam lalu menonton acara OPRAH yang edisi "America's Debt Diet". Dimana di situ diberikan trik dan nasehat untuk lepas dari jeratan hutang akibat kertu kredit.

Dasar tukang kecap, dalam lima menit si mbak dari bank tadi malah melongo mendengarkan saya yang mungkin sangat micara dan cas cis cus serta mungkin saja si mbak mbatin: "Oooo orang ini bukan monyet ternyata!"

Akuntansi moderen memang memungkinkan seseorang yang mempunyai hutang 1 miliar namun masih bisa mengakui bahwa dia mempunyai pendapatan lima juta per bulan. Dan dia masih bisa tampak borju bin klimis.

Akan halnya saya? Ratusan juta rakyat Endonesia belum pernah liburan ke Phuket, Thailand. Jutaan rakyat belum pernah makan mewah di hotel atau restoran mewah. Jutaan masih bingung dengan konsep uang plastik sampai ada yang mengira uang seratus ribuan yang berbahan plastik bergambar Bung Karno adalah langkah awal Endonesia mengenalkan uang plastik.

Sampeyan boleh saja bilang sudah pernah jalan-jalan keliling dunia. Atau punya mobil yang hanya ada 2 buah di Endonesia. Saya terima dengan lapang dada. Itu karena yang bernasib sama dengan saya lebih banyak dari orang-orang semacam anda.

Bolehlah sampeyan bergelar sebagai orang yang satu-satunya dalam hal ini itu. Saya mau beramai-ramai saja. Karena saya tak suka sendirian. Saya tak sudi kesepian. Jadi saya malah seneng kalo ketemu orang di jalan yang mempunyai kaus oblong yang sama dengan saya.

Ndeso beneran saya ini, ya??!!

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 9:38 PM   1 komentar

Saturday, February 24, 2007
Untung saya bukan ahli apa-apa
Setelah minggu kemarin kantor saya menghadapi mas-mas BPK yang lagi meriksa pengadaan barang di kantor saya yaitu pembangunan gedung baru berlantai empat (tahap I) dan satu lantai lagi untuk lantai 5 (tahap II) yang nilainya kalo ditotal jendreal ngawur-awuran akan berjumlah 8 miliar lebih, saya jadi ngungun dengan kejadian di pusat ini.

Ya saya memang ndak megang ijazah sertifikasi pengadaan barang dan jasa namun saya masih berhak menjadi panitia tender sampai akhir tahun ini lantaran sudah pernah ikut diklatnya. Dan berbekal Keppres 80 tahun 2003 yang sudah direvisi 4 kali itu saya tahu bahwa yang namanya penunjukan langsung dalam pengadaan barang di lingkungan pemerintahan itu TIDAK DOSA!
Masalahnya belakangan media memberitakan dan membentuk opini publik bahwa KPK memeriksa Yuzril lantaran penunjukan langsungnya bukan lantaran dugaan adanya kerugian negara.

Tidak dosa disini tentu jika penunjukan langsung (PL) itu sesuai syarat dan peraturan yang ada. Saya kutip ya:

"Metoda evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya." (Pasal 24 ayat 6 Keprres 80)

Dan berdasar PP Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, penujukan langsung pengadaan barang dan jasa diperbolehkan dalam kondisi:

a. Keadaan tertentu:
  • penanganan darurat untuk keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/ harus dilakukan segera.
  • pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi baru dan penyedia jasa yang mampu mengaplikasikannya hanya satu-satunya.
  • pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut keamanan dan keselamatan Negara yang ditetapkan oleh Presiden
  • pekerjaan yang berskala kecil, dengan ketentuan:
  1. untuk keperluan sendiri;
  2. mempunyai resiko kecil;
  3. menggunakan teknologi sederhana; dan atau
  4. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha perseorangan dan badan usaha kecil

dan atau

  • pekerjaan lanjutan yg secara teknis merupakan kesatuan konstruksi yang sifat pertanggungannya terhadap kegagalan bangunan tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan sebelumnya; atau

b. pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak lain yang telah mendapat ijin. (Sumber: PP No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, pasal 12)

Jadi (sodara-sodara!) asalkan semua syarat di atas terpenuhi dan memang tidak mengada-ada, maka pengadaan barang/ jasa di lingkup pemerintahan adalah hal yang wajar. Tulisan ini didesikasikan buat seorang kawan yang jauh di sumatra sana yang panik lantaran kantornya mo diperiksa trus bingung lantaran di kantornya ada penunjukan langsung dalam pengadaan barang/ jasa.

"Anu, pi'i.... Yuzril saja yang ahli hukum kena masalah gara-gara penujukan langsung... opo meneh aku??" kata beliau.

Kalo urusan di mbetawi itu mah lain... Misalnya saya jualan beras di pasar, trus ada yang menduga saya ngurangin jumlah timbangan saya. Lha penjual beras yang dagang disebelah saya protes dan teriak-teriak: "why you ngurangin the timbangan of beras which for sale, pi'i??"

Nah lantaran saya dikenal pinter di pasar maka saya jawab balik: "Lha you juga jualan beras tho???"

Seolah-olah ngurangin timbangan beras dan jualan beras adalah hal yang sama.... Dan untung kepala pasar tempat dimana om yuz jualan itu sangat cinta damai... Salamanlah... Negeri yang elok tho???

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 2:06 AM   8 komentar

HALAMAN|DEPAN

 

TEMPAT|CUAP-CUAP

 

nama :
rumah :
omongan :
 
:) :( :D :p :(( :)) :x

TULISAN|SEBELUMNYA

ARSIP|LAMA

 

 

 

| Pengunjung | Feeds | Technorati | Oggix | Photobucket | Imageshack.Us | Kampungblog | Blogger | Blogfam | RSS | Kelakuan |

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia