babunegara works with microsoft forntpage

jjjjj

 

babunegara ngeblog!: Gak lucu atau mencobanya. Gak mutu atau maksain untuk itu. Bukan terobosan hebat karena blog ini hanyalah bukti saya lebih sering nganggur dibanding pegawai lain.

bangpay: Seorang anak, suami, kakak, sahabat dan rekan kerja. Tinggal dan bekerja di Ternate sebagai priyayi KORPRI di sini. Pecinta oblong, celana setengah tiang dan topi yang hidup bagai kecoa.

 

make|blog|not|war

 

profil bangpay

langganan pake RSS? (opo kuwi?)

 

 
 
Monday, December 24, 2007
Tahun 2007 Hampir Usai, Tarik Nafaaass!!!
TANGGAL 2 September adalah tanggal terakhir saya nulis di blog ini. Lama sekali. Kemana saja saya?? Saya sendiri bingung mau bilang saja. Tapi satu alasan yang bisa saya utarakan -di antara berjuta alasan gawat lainnya- adalah lantaran kantor saya yang sebentar lagi konon mau berbasis IT itu masih miskin bandwitdh sedang saya lebih sreg kalo posting di blog ndak mutu ini di kantor sembari tenguk-tenguk nunggu jam pulang (ini korupsi tho? korupsi bandwitdh??).

Tahu-tahu tanggalan di kalender sudah harus diganti lagi. Bentar lagi masuk ke tahun 2008. Dua Ribu Delapan. Saya bukan peramal atau orang yang tanggap ing sasmita, apalagi orang yang mumpuni ilmu katuranggan dan ngiman supingi! Bukan tapi saya berani bilang, jangan berdoa tahun depan tidak ada masalah.

Karena yang namanya masalah itu ya berbanding lurus dengan kehidupan. Selama hidup ya anda semua bakal kena masalah. Wis tho ndak usah konfirmasi ke penasihat spiritual sampeyan, memang begitulah kenyataannya..

Sebagaimana biasa saya akan bikin resolusi bukan revolusi -karena saat ini kata revolusi juga sudah mulai bau duit, kaus-kaus bertuliskan revolusi dan tetek bengeknya kan sudah jadi barang jualan- yang pastinya ndak terlalu ngaruh di negara ya mawut-mawut seperti Endonesia kita tercinta ini.

Apa ya resolusi saya kali ini? Jangan yang muluk-muluk ah! Saya kan suka lupa dan melupakan. Selain mood-mood-an saya ini orangnya suka mut-mutan... Tentunya dengan bini. Halah...

Entah bagaimana nasib blog saya tahun 2008 nanti. Semoga masih tetep hidup dan lebih lagi semoga saya punya waktu luang. (Iri saya dengan temen saya ini yang masih punya banyak waktu luang, bukan begitu, bung??)

Yang jelas di tahun 2008 delapan nanti saya janji akan lebih sering mandi karena belakangan gerundelan istri saya lantaran saya tidak mandi berujung ke pertengkaran. Menyedihkan memang di usia saya yang kini lewat seperempat abad saya masih susah untuk mandi.

Terus, saya berniat untuk mencoba tren baru -minimal hal yang baru buat saya- yaitu sisir. Sisir, jungkat atau apalah nama yang anda berikan untuk alat merapikan rambut. Tentunya nantinya saya harus konfirmasi ke tukang pangkas rambut langganan saya agar tidak lagi memotong rambut saya dengan gaya "terserah kau sajalah yang penting aku tak perlu sisiran kalo mau kemana-mana".

Old & New Party-nya mo kemana, pay?

Akan halnya itu saya Insya Allah pas malam tahun baru nanti kami hanya akan klekaran beralaskan karpet di depan televisi yang dilengkapi dengan 18 channel dan nyamikan ndeso semacam terang bulan atau martabak dan kacang sukro. Ndak keren memang tapi klekaran begini minimal bisa merangsang agar hubungan saya dan bini makin, makin dan makin erat lagi....

Lagi pula dengan ngglethak di karpet, ranjang bisa ngaso dulu.... Huahahahaha!!

Lekoh!

Ya sudah... nikmati hidup anda, yang penting ingat kalo hidup itu sendiri tidak cuman sekedar buat mat-matan saja....

Selamat Tahun Baru 2008!!!!


Labels: , , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 3:51 AM   8 komentar

Thursday, July 26, 2007
Pejabat Coret Mental Gembel
Kadang saya bingung dengan diri saya (tentu saja orang lain pun sering bingung tentang saya). Di satu sisi kadang kalanya saya anti dengan hal-hal yang bersifat darurat, tapi saya juga sering kali bertingkah macam gembel. Percaya atau tidak saya sering sekali tidur di kantor. baik sekedar untuk lembur atau memang lagi ndak mau pulang ke rumah (toh saya ini bujang geografis).

Saya kok jadi sering ngelamun, seandainya saya kerja di hotel tentunya minimal bisa menikmati kasur yang enak di kantor sendiri. Ah sekedar angan-angan.

Bagaimanakah saya tidur di kantor saya?

Tentunya di kantor saya tidak ada yang namanya tempat tidur. Jadi tidur di kasur sudah sangat jarang saya lakukan. Jika saya dipasrahi kunci ruang server tentunya akan nikmat karena bisa molor di atas karpet (agak) tebel dan AC yang sejuk. Kalo tidak?

Kantor saya ini kantor darurat, karena bangunan yang lama sedang di bangun kembali setelah dianggap tidak layak untuk digunakan. Nah di kantor sementara yang dulunya bekas minimarket ini, tak ada musholla! Ya, kantor memang dekat dengan masjid jadi buat apa bikin mushola. Nah biasanya kan (dimana-mana) yang namanya musholla kantor akan menjadi tempat pelarian paling nyaman untuk tidur-tiduran siang meluruskan pinggang meski sudah ada larangan tidur di situ.

Jadi di kantor saya tidur beralaskan kardus bekas, potongan karpet sisa atau bahkan kertas koran bekas!!!!

Alhamdulillahnya saya dianugerahi kemampuan untuk tidur dimana saja (mengingat saya pernah ketiduran di kamar mandi) jadi tidur di kantor tetap ada nikmat-nikmatnya buat saya.

Dimana tho nikmatnya mas?

daripada ketiduran dengan posisi duduk, tidur di atas koran tentunya akan lebih nikmat. Daripada insomnia kayak hobinya bini saya, tidur di atas kursi lipat yang disusun sedemikian rupa tentunya bagaikan mukjizat!

Omong-omong soal tidur dengan kursi lipat, postur tinggi tubuh saya ternyata bisa muat tidur dengan nyaman hanya dengan dua buah kursi lipat!! Sebuah prestasi membanggakan? Tidak juga, namun saya seringnya suka senyum-senyum geli memikirkan betapa baiknya Gusti Allah sama saya....

Bagaimana tidur sampeyan tadi malam?


Labels: , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 1:21 PM   2 komentar

Sunday, July 15, 2007
Bini: "Kok gak ngeblog? Sibuk pacaran lagi ya?"
Oke, saya memang lama sekali ndak ngeblog di sana-sini. Maksud saya, selain ndak ngeblog di internet, saya juga absen ngeblog di intranet instansi kantor saya. Sibuk sih enggak, tapi sibuuuuuuuuuuuuuk banget iya!

Belakangan bini juga nanyain kenapa ndak ada postingan baru. Lha saya kan ngungun alias bingung, wong ya komunikasi lewat ponsel lancar kok masih butuh jlentrehan abab saya dalam bentuk tulisan di blog?

Ternyata alasannya simpel. Kalo SMS atau nelpon saya ndak akan bisa ngeluarin kata-kata ndakik-ndakik tinggi apalagi romantis. Wong meski suami-istri kami ini punya julukan masing-masing yang hangudubilah noraknya. Panggilan kambing dan monyet kan gak ada romantis-romantisnya tho??

Oke saya ngeblog lagi.

Selain karena kesibukan saya juga lantaran jaringan internet yang belakangan susah sekali saya dapati. Sibuk apa sih saya?

Saya dan bala kurawa saya membentuk tim khusus yang terdiri dari para bujangan ataupun bujang geografis mempersiapkan moderenisasi kantor saya. Ke depan, secara bertahap semua kantor instansi saya bekerja akan ada embel-embel moderen. Dus kantor saya yang sekarang ini masih kantor tradisional.

Kenapa dipilih tim yang anggotanya bujang? Hal ini dilakukan karena kepraktisan saja. Ndak ada urusannya dengan gender lho ya, mbak? Sudah seminggu ini saya tinggal di kantor mengerjakan beberapa agenda menyambut persiapan moderenisasi tersebut. Bukan hal yang gampang.

Memaparkan data ternyata tak semudah yang saya bayangkan masa kuliah atau SMA dulu. Misalnya, jika saya seorang kepala desa lalu disuruh ngitung jumlah penduduk miskin selama beliau bertahta harusnya kan gampang saja tho? Tapi prakteknya ndak demikian. Ada etika birokrasi. Ini sih bisa-bisanya saya saja ngelambe dengan kata: etika birokrasi!

Nah, sebagai pembantu lurah saya harus memperhitungkan data yang akan saya paparkan nantinya tidak akan membuat Pak Camat marah ataupun Pak Bupati tiwikrama ngamuk kebakaran jenggot. Dus artinya saya harus membuat data tersebut nampak cantik.

Kata cantik di sini berarti jumlah orang miskinnya harus sesedikit mungkin. Namun tak selesai sampai disitu. saya juga harus memperhitungkan bahwa angka yang sedikit itu harus sudah termasuk angka fiktif yang nantinya akan menambah kantung harta Pak Lurah dari Tunjangan Beras Miskin. Itu baru satu contoh.

Namun saya bukan pegawai kelurahan. Silakan imajinasikan sendiri kira-kira kesulitan apa yang dihadapi oleh petugas pajak bodoh macam saya!

Eh sudah baca ini? Alhamdulillah akhirnya tunjangan kami naik. Banyak yang protes dan yang setuju tentunya cuman kami-kami ini. Yang protes tentu saja terlalu terbiasa melihat pegawai departemen keuangan apalagi pegawai pajak yang hidup serba mewah. Padahal di kantor saya jangankan mobil, wong sepeda motor dinas saja pada berebutan lho.

Artinya, nggak semua pegawai depkeu itu tajir! Bahkan saya sendiri sering nunggak mbayar listrik dan kontrakan. Begitu juga dengan pengalaman temen-temen sejawat saya di kota-kota lain. Ya buat kami-kami ini yang bersedia bekerja mengabdi di luar kota-kota besar sak-Endonesia tentunya kurang menarik buat para orang tua untuk dijadikan mantu.

Entah kemana saat ini kesan bahwa mendapat menantu Pegawai Pemda lebih baik nasibnya dari pegawai Depkeu. Hahahaha.. jika kawan saya yang barusan gagal nikah gara-gara masalah di atas mbaca ini, kacaulah saya!

Lalu apa timbal balik dari moderenisasi yang otomatis dibarengi dengan penambahan penghasilan? Harapannya sih profesionalisme dan kebersihan di tempat kerja. Ya beberapa teman di kantor moderen sering mengeluh karena semenjak beralih ke sistem moderen, mereka ndak bisa lagi memeras Wajib Pajak!

Komentar saya cuman: "Hah? Orang macam anda ternyata rakus uang juga?? Waduh!!". Lalu saya dapati rumah mewah rekan sejawat saya itu, mobil-mobilnya dan barang-barang lain yang tak saya miliki. Itu takkan bisa dia beli dengan gajinya seumur hidup. tapi dia bisa.

Lain lagi dengan teman saya yang justru sedikit mendapat hidayah (tanpa nonton sinetron Hidayah) lantaran masuk ke kantor moderen. Dia pernah sms: "kalo dengan penghasilan segini mah gue gak perlu nyari dari Wajib Pajak!!!". Lumayan positif-lah...

Saya percaya, bahwa sekeren apapun sistem dibuat oleh manusia tentunya ada loophole yang dimana akan tetap saja bisa menjadi celah bagi oknum yang kurang bertanggung jawab untuk melawan sistem. Itu lain soal... Toh ada sanksi dan punishment. Soal nanti sanksi jarang ditegakkan itu juga lain soal lagi.

Ya hidup memang tak hanya hitam dan putih saja. Ada banyak warna dan nuansa. Dan saya, insya Allah, akan tetap berusaha semeleh berserah diri dengan segala Ketetapan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah SWT! Aamiin....

Jadi tidak ngeblognya saya lebih karena kesibukan atau jaringan internet yang tidak mendukung. Bukan lantaran punya pacar baru!!!!


Labels: , , , , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 10:11 AM   5 komentar

Wednesday, June 06, 2007
Selamat Ulang Tahun Kepada Saya!
Konon, karena saya belum bisa mengingat tanggal dan hari saat itu, saya dilahirkan pada tanggal 6 Juni. Sejak kecil saya selalu bangga dengan kenyataan bahwa tanggal lahir saya sama dengan tangga lahir Bung Karno. Namun makin lama kebanggaan itu makin lama makin berkurang dan digantikan dengan rasa malu. Dan ini bukan karena makin tua saya makin menemukan kekurangan dari Bung Karno. Ah mungkin saya cuman merasa tua.

Merasa tua dalam berbagai hal mempunyai efek yang bagus. Tapi jelek untuk beberapa hal lainnya. Ya dalam kehidupan kan kita harus menyadari bahwa tak ada yang benar-benar pasti. Selalu ada sesuatu untuk sesuatu, kata Pakdhe Umar Kayam.



Dengan merasa tua sampeyan akan malu untuk melakukan berbagai hal dengan alasan sampeyan sudah ndak pantas lagi. Tapi bisa juga mengalami dengan merasa tua sampeyan akan terperanjat betapa kepolosan, kejujuran dan keluguan yang anda miliki makin hilang dan anda akan mati-matian untuk mempertahankannya. Beberapa berhasil, beberapa gagal, kebanyakan malah ndak mikir apa-apa. Golongan ketiga inilah yang nantinya akan menjadi sekelompok manusia yang sok kaget dengan umur-umur mereka. Mereka mempertanyakan kemana umur mereka, kenapa cepat sekali menjadi tua.

Di tiap detiknya, hidup adalah anugerah. Dan puncak kesombongan manusia adalah alpa akan nikmat hidup itu sendiri dengan membiarkan hidup berlalu begitu saja tanpa mengisinya dengan penuh suka cita dan rasa syukur. Tahu-tahu tahun demi tahun berlalu.

Naif jika pencapaian hidup seseorang diukur dari berapa banyak harta yang ia punya yang merupakan pencapaian kerja keras dalam hidupnya. Namun saya sangat bangga pada harta saya yang paling berharga yang telah saya capai. Harta itu adalah: istri saya.

Saya selalu bangga dengan istri saya. Jangan bayangkan kehidupan rumah tangga saya mulus-mulus saja seperti kisah dongeng. Saya bahkan bisa bertengkar dengan istri hanya karena mendebatkan alur cerita sebuah film! Buat teman-teman nongkrong saya di kampus tentunya akan sadar betapa saya sangat suka mengasah otak dengan gesekan-gesekan ide dan ego di forum-forum yang justru non-formal.

Saya ndak suka ikut lomba atau acara khusus debat. Karena semua telah diatur. Sedang jika sampeyan bisa membuat suatu debat tanpa rencana di tempat yang seadanya tanpa rencana sebelumnya, menurut saya hidup anda benar-benar indah. Sampeyan akan bisa mengenal orang dengan otak-otak mereka langsung.

Kata Mbah Sigmund Freud, tak ada yang lebih indah dan memuakkan dalam waktu yang bersamaan selain meneliti pikiran manusia lain.

Tak ada kebenaran yang pasti dalam debat mendadak. Semua benar karena didasarkan pengalaman masing-masing. Dari sinilah kita belajar banyak.

Dan istri saya selalu siap memercikkan api-api debat dengan saya tiap hari tentang segalanya....

Dan Oh My God, saya merasa begitu hidup!

Duh Gusti, tentunya saya terlihat tua dan putus asa dengan menulis ini. Tapi perasaan "menjadi tua" benar-benar memagari saya dari kegiatan-kegiatan yang merusak dan jahat. Biarlah saat bertemu dengan teman-teman saya terlihat ndeso dan kampungan dan terkesan kurang menikmati hidup. Tak apa, bukan itu yang saya sebut menikmati apalagi mensyukuri hidup.

Gusti, di umur saya ini, berikan lebih banyak kesempatan buat saya untuk mengenal lebih banyak orang. Ijinkan saya memasuki pikiran-pikiran mereka. Gusti, aku mencintai-Mu!!

Blog, sedikit banyak menggambarkan bagaimana seseorang berpikir. Hidup itu ibarat mampir untuk singgah minum setelah berlayar, dan seperti biasa, singgah minum membuat kita harus ngobrol dengan orang lain yang kita jumpai.

Dan saya sangat benci kehilangan kesempatan untuk bertukar pikiran dengan orang lain.

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 5:32 AM   3 komentar

Saturday, May 19, 2007
Cinta Ada Di Gorontalo
Akhirnya saya bertemu lagi dengan bini yang membuat saya niba tangi itu. Ini gara-gara tanggal merah hari kamis yang lalu bos besar saya di betawi memutuskan hari jumat yang merupakan hari kecepit nasional (harpitnas) bagi buruh lima hari kerja macam saya ini sebagai hari cuti bersama yang otomatis memperkosa saya agar jatah cuti tahunan saya disunat seenak jidat.

Berawal dari celetukan kepala seksi saya yang bilang: "mas, kalo sampeyan mbolos tiga hari (senen selasa dan rabu) maka sampeyan bisa pacaran sama istri sejak hari sabtu, minggu, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu di gorontalo... piye??"


Akhirnya saya berangkat juga, korupsi gede-gedean versi saya benar-benar terjadi. Saya bolos tiga hari!!!

Seminggu bersama bini bener2 bikin lemes, maksudku lemes dalam artian kesana kemari, ya bini memang punya hasrat mengajak saya ke berbagai tempat. Sehingga dengan berkendara motor kami keliling gorontalo dari objek bikinan Tuhan langsung atau yang pake perantara tangan manusia.

Aku mencintaimu, istriku!!!!

Sampai jumpa lagi!!!!!!!

Nah kayaknya blog ini bakal hiatus lagi... saya baru tiba sabtu siang di ternate, minggu siang besok saya sudah harus numpak pesawat menuju makassar selama seminggu. Jual beli abab di sana. Sing penting kan blogku wis ter-update. Puas????

Labels: , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:55 AM   14 komentar

Saturday, April 21, 2007
Eman-eman Wanita-nya Umar Kayam
Menyambut Hari Kartini, saya juga mau menuliskan tentang wanita. Namun berhubung akan sangat banyak orang yang menuliskannya, saya justru akan menuliskan salah satu esai milik Umar Kayam di buku Mangan Ora Mangan Kumpul yang merupakan kumpulan esai yang terbit mingguan di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Pengenalan singkat para tokoh akan saya buat seringkas mungkin. Umar Kayam yang diceritakan menjadi tokoh bernama Pak Ageng, mempunyai kitchen cabinet (begitu beliau menyebut keluarga yang membantunya untuk urusan pekerjaan rumah) yang terdiri dari Mister Rigen, Mrs. Nansiyem yang merupakan istri Mr. Rigen. Suami istri pembantu rumah tangga Pak Ageng ini diceritakan mempunyai anak bernama Beni Prakoso.

Silakan dibaca esai berjudul "Eman-eman Wanita" berikut ini. Mungkin ini postingan saya yang terpanjang. Harap sabar dan telaten.

Menunggu waktu makan siang pada hari Minggu kadang-kadang terasa amat panjangnya. Apalagi kalau tidak banyak yang kita lakukan pada waktu itu. Teve dengan acara rutin yang itu-itu saja, pekerjaan lemburan sedang kosong, utang penulisan makalah sudah lunas, tidak ada kawan yang datang untuk mengobrol. Maka sempurnalah kebosanan menguasai Minggu siang begitu.

Di dapur Ms. Nansiyem menggoreng tempe, Mr. Rigen sedang memarut kelapa, Beni Prakosa memetik daun bayem. Saya dapat menduga pastilah menu makan siang itu sayur bobor bayem, tempe goreng, sambel tempe bakar dan mungkin ayam goreng atau bandeng goreng. Hampir tidak mungkin mereka akan mencantumkan empal daging sapi pada siang itu. Wong tanggalnya sudah sangat tua bongkok, mana harga-harga di pasar sudah melangit. Melihat trio kitchen cabinet saya bekerja dengan rileks, terampil dan gembira begitu hati saya ikut senang juga. Apalagi suasana anatara mereka itu bolehnya rukun begitu, lho. Mongkok hati saya. Itu pertanda bahwa dari tubuh saya cukup kuat sinar wibawa, aura, yang mengayomi mereka memancar dengan kuatnya. Bukankah itu syarat utama bagi setiap orang yang ingin madeg menjadi raja yang baik?

"Kalian pasti sedang masak jangan bobor bayem. Dan tempe, dan sambel tempe bakar. Jangan lupa sambelnya diciprati minyak jlantah biar sedep dan gurih."

"Kok Bapak tepat sekali dugaannya, lho. Padahal pagi tadi Bapak tidak dawuh macam menu apa-apa, lho."

"Ya, apa susahnya nebak kalian masak pada tanggal tua begini. Kalian pasti tidak nggoreng empal to?"

"Wah, ketebak lagi, Pakne. Siang ini cuma nggoreng bandeng, kok, Pak."

"Nah, rak tenan! Ya sudah nggak papa. Asal jangan bobornya tidak kemanisan, sambel tempenya mlekoh jlantah-nya dan bandeng gorengnya kering."

"Sip, Pak Ageng. Siip." Dan si bedes cilik Beni Prakosa mengacung-acungkan jempolnya.

"Sip ki apa, Le?"

"Sip itu enak, Pak Ageng. Jangan bobol sip. Bandeng sip. Blongkos mboten sip."

Melihat Ms. Nansiyem cak-cek dengan terampilnya menggoreng tempe, menyaut sayuran lantas dicemplungkan ke dalam panci, menyaut lagi santan yang diperas suaminya dan keringat yang dleweran dari dahinya, sekali-kali menetes ke dalam lautan jangan bobor, tidak bisa lain bagi saya selain semangkin mengaguminya. Dapur memang wilayah kekuasaannya. Di situ dia dia menunjukkan wibawanya. Dan Mr. Rigen dan Beni Prakosa memang tak bisa lain selain menerima otoritas Ms. Nansiyem itu.

"Coba, Pak. Lari sebentar angkut jemuran itu. Kayaknya mau hujan itu."

Dan Mr. Rigen, direktur kitchen cabinet yang berwibawa itu, lari dengan tergopoh diikuti anaknya. Baru saja selesai melaksanakan tugas sang istri itu, datang lagi perintah yang lain.

"Cepat pergi ke Bu Arja, Pak. Beli lombok merah dan bawang merah buat nyambel. Beni nggak usah iku, di sini saja." Dan Beni yang sudah siap bonceng bapaknya mulai membik-membik mau nangis.

"Heisj, nggak usah nangis. Katanya sudah lebih tiga tahun!" Dan suara Ms. Nansiyem begitu berwibawa hingga tangis itu tidak jadi runtuh membasahi pipi anak kecil itu. Dan begitu Mr. Rigen datang, datang perintah berikutnya.

"Cepet ulek sambelnya, Pak. Tahu-tahu kok sudah siang, lho. Sida kapiran tenan, Bapak ini nanti."

Saya yang duduk di kursi rotan di gang dekat dapur merekam itu semua dengan asyik. Dalam bulan ini sudah dua hingga tiga kali saya terlibat dalam pembicaraan tentang hak asasi wanita, jam kerja wanita, upah wanita, tidak adilnya masyarakat memperlakukan wanita. Melihat gerak-gerik dan nada dan irama Ms. Nansiyem menguasai dunia perdapuran, suami dan anaknya, makalah yang bagaimana lagi yang bisa ditulis tentang wanita?

"Ms. Nansiyem!"
"Dalem, Pak!"
"Kowe tahu arti emansipasi wanita?"

"Apa, Pak?"

"E-man-si-pa-si wa-ni-ta."

"Oo, eman-eman wanito, to, Pak. Lha, ya sepantesnya dieman-eman to, Pak., tiyang wedok niku...."

"Heesy, Bune, Bune. Mbok kamu jangan keminter, sok pinter, gitu, to. Matur bares, terus terang, sama Pak Ageng. mBoten ngertos, Pak."

"Nah, rungokna, dengarkan baik-baik...."

Maka sebagai pembela hak asasi wanita, sebagai pengagum wanita, saya pun lantas menjelaskan apa makna emansipasi wanita itu. Pokoknya saya jelaskan kalau emansipasi itu artinya bebas dari belenggu penindasan. Penindasan siapa? Tentu penindasan suami, penindasan keluarga sendiri. Perempuan selalu disia-siakan, wong wedok disia-sia, diperlakukan tidak adil. Dan sebagainya lagi.

Selesai menjelaskannya begitu saja diam. Mengamati wajah trio anggota kitchen cabinet itu. Mereka menatap saya dengan wajah melongo. Mungkin sedang mencoba mencerna kuliah saya yang sangat bermutu dan canggih itu. Ah, mereka tidak menyadari bagaimana beruntung mereka punya majikan priyayi Korpri, elite birokrasi seperti saya. Tidak semua pembantu dapat privilese keistimewaan, mendengarkan kuliah yang begitu bukan? Kuliah yang akan membuat mereka batur-batur yang progresif dan berwawasan luas! Tiba-tiba seperti orang yang baru lepas dari hipnotis mata mereka membelalak melihat kepada wajan di kompor. Asap mengepul. Bau gosong.

"Matik aku, Pakne. Bandenge gosong, bandenge gosong. Cepet, cepet, angkat, Pakne. Minyaknya dibuang, wajane digrujug air!" Dengan sebat trio saya itu cak-cek membereskan krisis sebentar itu. Bau asap gosong memang masih terasa, tetapi suasana sudah mulai tenang kembali. Celaka, sedikitnya ada empat bandeng yang menjadi areng, gosong. Malam nanti makan apa?

"Pripun kalau begini, Pak."

"Lho, kok pripun?"

"Gara-gara Bapak ndongeng ngeman-eman (menyayangi) wanito bandengnya gosong sedaya. Bukan salah saya, bukan salah saya, Pak." saya tertegun melihat rasa bersalah menguasai wajah Ms. Nansiyem.

"Terus nanti malam Bapak harus dahar apa, coba? Tanggal tua anggarannya sudah menipis? Makanya kalo orang baru kerja itu, Bapak jangan ngganggu, to. Lenggah saja sing eca. Sudah, nanti malam manggil sate saja, nggih!"

Wah, di depanku bukan lagi Ms. Nansiyem anak buah Mr. Rigen dalam kitchen cabinet. Di depanku adalah Madam Rigen yang ambil inisiatif merigenkan semuanya. Dan kami yang ada di depannya manggut-manggut manut beliau belaka.

Eman-eman wanita, eman-eman wanita. Eman-eman bandenge gosong sedaya.... (sayang bandengnya gosong semua)

22 Desember 1987

NB: Seperti halnya salah satu episode film kartun Spongebob Squarepants, dimana terjadi perdebatan sengit tentang siapakah yang paling hebat antara hewan darat dengan hewan laut. Pada akhirnya akan sia-sia mendebatkan itu. Kenapa tak mencoba berjalan beriringan saja?

Lagian, ngeman-emani wanita yang kita sayangi kan suatu keistimewaan sendiri tho? Eman-eman kalo tidak di eman-emani!!! (Sayang kalo tidak disayangi)

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 2:44 AM   11 komentar

Friday, April 20, 2007
Saya VS Uang Plastik
Siang itu sehabis bersantap siang, saya yang ngetem di meja kerja saya, dengan melipat tangan saya tidur-tidur ayam. Jam istirahat siang memang belum usai tapi tak ada tempat yang saya tuju sehingga meja adalah tempat yang senyaman ranjang di rumah. Orang kantor masih sepi hanya beberapa bujangan yang memang tak perlu pulang ke rumah -toh ndak ada yang menunggu- tengah bermain game di depan PC masing-masing.

Saya tengah bermimpi indah. Dalam mimpi itu saya tengah menlepon Tamara mBlezeki. Saya tengah menghiburnya di tengah kemelut keluarga yang ia hadapi. Tiba-tiba jaringan ponsel error. Suaranya terdengar jelas namun kayaknya suara saya tak bisa didengar oleh Tamara. Dia memanggil-manggil nama saya.


"Mas!!! Mas!!! Mas......."


Aaarrgghh.. Rupanya cuma mimpi. Saat membuka mata, bukannya Tamara yang membangunkan saya dengan suara 1 oktaf lebih melengking dari tukang minyak keliling. Namun seorang mbak-mbak berbaju rapi dan di tangannya penuh kertas brosur.

"Maaf, mas...! Maaf saya mengganggu sebentar"

Roh saya yang baru terkumpul setengahnya hanya memasang pandangan bengong sambil sibuk mengelap air liur saya yang kemana-mana. Lalu saya tanya ada apa sih kok tega mengganggu siesta saya kali ini.

"Mas, maaf... kok kantor sepi ya? Kebetulan saya dari Bank Kura-kura mau mengadakan promosi kartu kredit"

"Waduh mbak.. Jam segini ya pada pulang, setengah jam lagi baru pada datang!!"

"Oh! Kalo begitu saya tawarkan ke mas saja"

"Waduh! Bukannya apa-apa, mbak... saya ndak tertarik punya kartu kredit, soalnya hutang kok dibikin prestisius dan berkelas, kata ibu saya yang namanya hutang ya hutang."

"Lho Mas salah! Kartu kredit memang kalo sekilas mirip dengan hutang tapi dilihat dari kegunaannya akan sangat membantu mas, apalagi banyak barang yang di jual di toko yang akan mendapat potongan harga jika menggunakan kartu kredit kami."

Saya tahu itu. Lagian buat apa kejebak diskon jika kita tahu harganya sudah dinaikkan terlebih dahulu? Namun si mbak-mbak ini menjelaskan detil kegunaan kartu ATM seolah-olah saya ini monyet yang sedang dikenalkan dengan benda bernama celana. Saya cuman menangkap sedikit dari kata-katanya, maklum saya masih ngantuk.

Setelah lima belas menitan menjelaskan, mbak itu akhirnya melakukan penutupan dengan kalimat:

"Jadi gimana, mas? Mo aplikasi sekarang?"

"Eh... Opo? Aplikasi opo, mbak??"

"Kartu Kridit Mas...."

Saya lalu bercerita tentang konsumen sebenarnya sangat dicurangi dalam penghitungan bunga bank. Saya tahu akuntansi, saya tahu trik agar nominal suku bunga kecil namun kalo dilihat dari jumlah uang yang harus dibayar akan sangat besar. Ya, sekejam-kejamnya penipuan kan penipuan yang dimana si korban tak sadar kalo tengah ditipu.

Sebenarnya antipati saya terhadap uang plastik itu benar-benar menggelegak lantaran beberapa malam lalu menonton acara OPRAH yang edisi "America's Debt Diet". Dimana di situ diberikan trik dan nasehat untuk lepas dari jeratan hutang akibat kertu kredit.

Dasar tukang kecap, dalam lima menit si mbak dari bank tadi malah melongo mendengarkan saya yang mungkin sangat micara dan cas cis cus serta mungkin saja si mbak mbatin: "Oooo orang ini bukan monyet ternyata!"

Akuntansi moderen memang memungkinkan seseorang yang mempunyai hutang 1 miliar namun masih bisa mengakui bahwa dia mempunyai pendapatan lima juta per bulan. Dan dia masih bisa tampak borju bin klimis.

Akan halnya saya? Ratusan juta rakyat Endonesia belum pernah liburan ke Phuket, Thailand. Jutaan rakyat belum pernah makan mewah di hotel atau restoran mewah. Jutaan masih bingung dengan konsep uang plastik sampai ada yang mengira uang seratus ribuan yang berbahan plastik bergambar Bung Karno adalah langkah awal Endonesia mengenalkan uang plastik.

Sampeyan boleh saja bilang sudah pernah jalan-jalan keliling dunia. Atau punya mobil yang hanya ada 2 buah di Endonesia. Saya terima dengan lapang dada. Itu karena yang bernasib sama dengan saya lebih banyak dari orang-orang semacam anda.

Bolehlah sampeyan bergelar sebagai orang yang satu-satunya dalam hal ini itu. Saya mau beramai-ramai saja. Karena saya tak suka sendirian. Saya tak sudi kesepian. Jadi saya malah seneng kalo ketemu orang di jalan yang mempunyai kaus oblong yang sama dengan saya.

Ndeso beneran saya ini, ya??!!

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 9:38 PM   1 komentar

Saturday, March 10, 2007
Musim duren [belum] berlalu
Musim duren belum berlalu juga di ternate. Di pinggiran pantai di sebelah kawasan warung tenda tepi laut masih saja terlihat penjual duren. Ya duren memang sudah makin langka dan buah cempedak mulai menggusur posisi duren. Sejak SD saya tertarik dengan buah cempedak, namun setelah bertugas di pulau inilah baru saya bisa memakannya.

Kemarin saya dipanggil (sebut saja) Pak Haji yang kebetulan jualan duren. Saya bilang saya akan mampir sore harinya.

Dan Pak Haji menyuguhkan tiga buah duren buat saya sore itu. saya lagi senang, kata beliau. Lha saya yang memang terkenal penggemar duren (bukan duda keren!!) langsung menanggapi dengan manggut-manggut bak kalkun!

Di pinggir laut saya buka satu persatu duren itu sambil ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Haji. Persetan kolesterol! Musim duren hampir usai... nikmati tiap jilatan! Njilat Driji Enak!!

Whe lha kok pas duren ke enam durennya bener-bener kosong! Ndak ada apa-apanya cuman angin. Kecele tenan... Nah suasana begini ini yg ndak enak, mo minta tuker sama pak haji wong ya saya ini trimo gratisan, mau diem kok mongkok atiku!

Untungnya angin laut seperti berbisik menirukan suara bini: "kolesterol... kolesterol...". Oke... sampai di sini dulu duren!! Sampai jumpa lagi... Selepas itu saya berdiri dan pamitan sama Pak Haji yang lagi melayani pembeli. Tak dinyana beliau ketawa terkekeh-kekeh!

"Kamu itu memang laki-laki baik, Pi'i!!! Saya sengaja ngasih duren kosong dan ingin tahu reaksimu... ternyata kamu ndak protes!!! Ini.. ini ambil lima lagi buat bawa pulang! Ini saya sudah ikatkan!!"

Whe lha dalah!!! Saya ini jadi bingung. Saya kan buka lelaki baik, saya ini lelaki cap duren tiga! Pak Haji yo siapa sih pake ngetes saya segala? Ning farewell sama duren tadi malah alhamdulillah betulan lantaran batal demi hukum. Hukum perut kemaruk!!!

"Makasih, Pak Haji! Kok bisa lho ada duren kosong???" tanya saya basa-basi.

"Hehehehehe... cek saja bisa kosong lho, Pi'i!!" jawabnya terkekeh.

Labels: ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 7:13 AM   6 komentar

Friday, March 09, 2007
"Ojo numpak pesawat larang!"
Itulah yang oleh teman saya dengung-dengungkan. Ajakan untuk jangan naik pesawat berharga tiket mahal tentu gara-gara terbakarnya pesawat garuda kemarin lalu. Dan dari gaya bahasanya yang pake acara diterjemahkan segala padahal dia tahu saya juga pengguna bahasa jawa berarti dia mengirim pesan singkat ke lebih dari satu orang, atau jangan-jangan ke seluruh nomor yang ada di buku telepon ponselnya.
Tak dipungkiri pesawat garuda telah lama menjadi ikon kebanggaan di bidang dunia penerbangan indonesia, makanya berani matok harga tinggi (selain lantaran memang ndak bisa murah lagi, segitu saja negara masih nombok je!). Di sekitar saya yang sering menggunakan pesawat sebagai alat transportasi bahkan menganggap terbang bersama garuda merupakan prestise tersendiri. Lha kalo begini kan rekan-rekan kerja saya pada rendah hati dan tidak sombong semua wong nrimo ndak maksa naik garuda kalo dinas luar. Ya selain tidak sombong mungkin lantaran sengaja mencari angkutan udara murah agar sisa biaya dinasnya bisa dibeliin oleh-oleh pista, tipis tapi rata.

Awal 2007 tentunya makin menguatkan opini bahwa penerbangan murah beresiko tinggi kecelakaan dengan hilangnya pesawat adam air. Ya garuda jarang kecelakaan. Teman saya yang belakangan SMS agar jangan naik garuda itu, awal tahun 2007 SMS agar saya jangan naik penerbangan yang murah, takut ilang katanya.

"Tuh liat adam air ilang!!!!"
Serba salah!

Naik penerbangan murah nanti tenggelam di laut. Naik yang mahal nanti kobongan terbakar. Gusti, paringono aji-aji slaman slumun slamet!!!!

Gambar diambil dari sini

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 5:53 AM   8 komentar

Tuesday, March 06, 2007
Selamat Ulang Tahun, Istriku!!!
Aku akan bercerita tentang istriku kali ini. Seorang wanita yang kuat juga rapuh. Seorang perempuan yang pengasih tapi juga galak. Yang mampu membuatku terjaga semalaman menyaksikan pemberian Gusti Kang Murbeng Dumadi ini tidur dengan pulas. Istriku, terima kasih sudah mengisi hari-hariku.


Jauh darimu sangat menyiksa. Pertama, siapa yang nyiapin makanan buatku coba? Ujung-ujungnya aku harus makan di warung, yang di tiap kunyahan kok seperti berbunyi: "kolesterol... kolesterol....". Kedua, siapa pula yang bakal cerewet dengan penampilanku? Kumisku pating cringih tumbuh gak beraturan lah, rambut gondrong ndak jelas lah, baju kusut anti setrika-lah, ngantor gak mandi-lah. Sungguh aku kangen segala cerewetmu itu. Dan masih banyak lagi alasan lainnya....

Kau hadir dalam kesederhanaan yang setia. Betapapun menyebalkannya aku, betapapun menjengkelkannya diriku, kau setia disana. Hari demi hari, masalah demi masalah, toh pada akhirnya kita lewati untuk kemudian kita tertawakan bersama.

Aku mencintaimu, istriku. Tidakkah kau tahu itu?

Aku tak pernah main-main saat mengajukan pertanyaan retoris: "siapa wanita tercantik di dunia?" tiap malam. Ya, dirimu adalah wanita tercantik yang Tuhan berikan padaku. Buktinya, aku belum poligami meski kau ijinkan, apalagi selingkuh yang jelas-jelas akan melukaimu!

Selamat Ulang Tahun, istriku....

Terima kasih telah setia menemani jalan idealisme-ku, yang penting kita masih bisa makan, halalan thoyyiban, Insya Allah!! Amiin...

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:00 PM   11 komentar

Thursday, February 08, 2007
Sembah Sujud Saya Buat Ibu!
IBU saya yang sangat saya kagumi, ternyata manusia juga. Puluhan tahun sepanjang hidup saya, beliau hadir sebagai sosok yang tak pernah sakit, lapar, marah, sedih dan menderita. Terutama di depan anak-anaknya. Ibu saya selalu menahan tangisnya, menunggu seperti malam yang akhir, barulah beliau menangis di depan Rabb-nya.

Sepulang saya ke kampung halaman kemarin saya mendapat kabar yang membuat saya sangat terpukul. Ibu saya didiagnosa menderita kanker mulut rahim. Saya menangis. Saya telpon istri saya dan mengabarinya, dan seperti pesan ibu, tak kan saya tunjukkan saya sedang menangis di depan istri. Menangislah di depan Rabb-mu, nak!

Ibu saya ini keterlaluan. Saat saya agak-agak banyak tabungan di bank sehingga berani pulang kampung, beliau malah tidak cerita sakitnya. Saat saya kembali ke haribaan pulau ternate, yang artinya tabungan saya sudah terkuras habis, baru beliau cerita!!! Ibu, bahkan di saat sakitpun kau tak mau membebani anakmu ini. Kedalaman makna hidup yang kau jalani masih susah dan terlalu jauh untuk kukejar.

Engkau benar-benar kuletakkan di atas kepalaku sebagai wujud baktiku padamu. Ibu, pi'i kangen ibu! Oke, tentunya saya sangat butuh uang tho?


Nah, ibu saya berpesan: "Jika kau punya hutang, sebisa mungkin kau lunasi dulu, siapa tahu orang itu lebih butuh daripada ibu. Tapi tak perlu kau tanyakan kepada orang yang kau berhutang padanya apakah dia sedang butuh uang atau tidak, pokoke lunasi dulu!!! Dan jika dari tabunganmu tak tersisa satu rupiah pun, niscaya kau akan sangat dekat dengan Tuhanmu, karena kau tak punya tempat lain untuk bergantung kecuali pada Tuhanmu, bukan rekening bankmu apalagi bergantung kepada Wajib Pajak!!!! Ibu percaya, demi istrimu saja kau jaga kebersihan hatimu di dunia kerja, apalagi buat ibumu? Jujurlah dalam bekerja. Ibu mendoakanmu. Selalu. Ibu bangga padamu...."

Saya terharu.

Ibu saya ini editor saya dalam hal menapaki dunia menulis saya. Dulu tiap menulis sesuatu, pasti saya pamerin ke ibu saya dan dan meminta kritikan dari beliau. Terima kasih buat istri saya yang sudi mencetak tulisan-tulisan saya di blog ini lalu memberikannya pada ibu saya. Ibu menyukainya, kata beliau.

Ibu, maaf jika anak lanangmu tetep kere (miskin). Ibu yang pegawai negeri tentunya tahu bahwa gaji dan tunjangan saya tak seberapa. Maaf jika saya tak bisa membantu banyak. Dan tolong tetangga kita yang honorer kantor pajak itu diracun tikus saja, Ibu!! Bisa-bisanya beliau bilang sama ibu: "Saya saja yang honorer bisa punya mobil, apalagi mas pi'i yang jabatannya jauuuuh lebih tinggi dari saya!!". Nah, racun tikusnya beli yang murahan saja... Hehehe...

Istri saya tahu, saya sering menghapalkan cerita-cerita lucu untuk saya ceritakan pada beliau saat kami berjumpa, karena hal itu juga saya lakukan kepada istri saya. Saya menghapal banyak cerita lucu untuk orang-orang yang saya kasihi. Coba saya punya banyak duit, pasti saya ngasih duit, bukannya cerita lucu!!!

Ibu, semoga lekas sembuh!!!! Anakmu yang paling ganteng ini (semua adik saya perempuan) akan tetap tegar dan melucu dimana-mana. Kan ibu pernah pesan:

“Jika kau bukan dokter, jika kau bukan saudagar, jika kau bukan penjaga keamanan, jika kau bukan ulama, sedekahlah dengan memperhalus nada suaramu dan ceritalah yang menyenangkan dan menyejukkan hati…”

NB: Teriring maaf untuk seluruh kerabat saya atas emosi saya yang tak terkendali saat sampeyan ngomong: "Dasar anak gak berbakti!!! Mosok orang pajak gak punya duit... Kamu pasti bohong....." Ya Tuhan, sirami bara hamba di dalam dada ini dengan air kesejukan.... Amin!

Juga untuk mbak yati yang seneng gerak-gerak, semoga sampeyan gak betah di rumah sakit sehingga cepet sembuh! Yang tabah... Doa saya sekeluarga buat mbak...

Labels: , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 2:30 AM   8 komentar

HALAMAN|DEPAN

 

TEMPAT|CUAP-CUAP

 

nama :
rumah :
omongan :
 
:) :( :D :p :(( :)) :x

TULISAN|SEBELUMNYA

ARSIP|LAMA

 

 

 

| Pengunjung | Feeds | Technorati | Oggix | Photobucket | Imageshack.Us | Kampungblog | Blogger | Blogfam | RSS | Kelakuan |

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia