babunegara works with microsoft forntpage

jjjjj

 

babunegara ngeblog!: Gak lucu atau mencobanya. Gak mutu atau maksain untuk itu. Bukan terobosan hebat karena blog ini hanyalah bukti saya lebih sering nganggur dibanding pegawai lain.

bangpay: Seorang anak, suami, kakak, sahabat dan rekan kerja. Tinggal dan bekerja di Ternate sebagai priyayi KORPRI di sini. Pecinta oblong, celana setengah tiang dan topi yang hidup bagai kecoa.

 

make|blog|not|war

 

profil bangpay

langganan pake RSS? (opo kuwi?)

 

 
 
Sunday, September 02, 2007
Jalan-jalan Ke Buli, Halmahera Timur
HARI kamis lalu saya bersama kepala seksi saya dinas ke buli, sebuah desa di Kabupaten Halmahera Timur. Tujuan kami tak lain tentu saja hanya mau melakukan pemeriksaan sebuah perusahaan tambang di sana. Berikut ini ceritanya.



Buli, adalah desa yang hadir dan berkembang karena adanya perusahaan tambang disana. Penduduknya multi etnis, baik penduduk asli, pendatang dari ternate, bugis, buton, gorontalo, jawa dan tentu saja etnis tionghoa ada disana. Untuk ukuran Indonesia Timur, buli termasuk rame. Tapi untuk ukuran sampeyan yang tinggal di jawa, buli itu neraka.



Ya, pusat keramaian di buli hanya pasar yang buka jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Jalanan yang becek. Dan tentunya sepi.

Jam setengah 11 pagi hari kamis saya dan bos saya berangkat ke Buli menggunakan pesawat Trigana Air. Perjalanan hanya 20 menit. Alhamdulillah cuaca lagi cerah. Turun dari pesawat, feeling saya mulai gak enak. Bayangkan saja kalo sampeyan turun di pesawat kayak turun dari angkot pas musim hujan. Bandara apa ini? Kok becek???

Celana dan sepatu saya penuh lumpur. Ponsel saya hanya menunjukkan satu - dua bar tanda daerah bandara Buli ini miskin sinyal. Saya dan Kasi saya benar-benar buta arah dan transportasi menuju daerah tambang yang kami periksa. Beruntung kami berjumpa dengan (sebut saja) BapakMaman Sumaman, pegawai PT Aneka Tambang yang kebetulan sedang menjemput tamu.

Dengan bahasa sunda yang terpatah-patah saya mencoba menanyakan kemungkina transportasi yang paling efektif menuju Perusahaan Tambang yang hendak kami periksa. Efek Psikologis yang saya harapkan terjadi juga.

Begini, menurut sampeyan nama Maman Sumaman yang terpampang di name tag itu nama orang mana? Otak saya langsung menangkap bahwa nama seperti itu atau Dadang Sudadang atau Cecep Gorbacep adalah orang sunda. Dan seperti jutaan perantau lainnya akan sangat senang jika perasaan kerinduan akan kampung halaman ada yang menyentuhnya. Hasilnya?

"Bapak naik bis bandara dulu nanti mintya turun di PT Antam, dari sana saya akan antar Bapak-bapak. Soalnya mobil kami penuh jadi kita bertemu di sana saja, Oke, Pak?"

Senyum saya melebar...



BULI, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur adalah sebuah desa kecil yang termasuk rame untuk ukuran desa di pulau Halmahera. Saya akui saya berharap terlalu banyak saat hendak berkunjung kesana. Saya terlalu antusias dengan kata "rame".

Transportasi darat adalah cobaan terberat saat saya bersama Kasi saya yang telah saya tulis di sini. Hanya mobil-mobil yang terpilih yang bisa bertahan di jalur darat Buli yang semuanya bagai jalur off road. Mobil yang paling banyak saya jumpai disini adalah mobil Mitsubishi Strada. Ya, butuh performa mesin yang bukan main-main untuk bisa melalui jalanan di sana.

Lebih terkejut lagi ketika saya sampai di pusat kota Buli dimana mobil yang dipakai untuk transportasi umum antar kota seperti Buli - Subaim - Sofifi (calon Ibukota Propinsi Maluku Utara) kebanyakan bernilai 500 juta ke atas! Jarak Buli dengan Subaim yang berjarak kurang lebih 40 km harus ditempuh selama 4 jam!! Bayangkan jika sampeyan menggunakan mobil ceper bermesin melempem?!

Ongkos mobilnya juga gak baen-baen. Untuk trayek Buli - Subaim kita harus merogoh kocek Rp. 200 ribu! 40 km seharga 200 ribu??? Dan Subaim - Sofifi harus keluar uang kurang lebih 300 ribu lagi itupun harus ditempuh selama 5 jam pula!



Perjalanan darat adalah alternatif kami berdua untuk pulang ke ternate karena penerbangan baru ada hari selasa minggu depan. Dari Buli kami berencana Ke Subaim lalu nyambung ke Sofifi. Dari Sofifi kami berencana naik speed boat menuju Ternate. What a plan!

Anda mengeluh jalanan berlubang atau rusak? Ndak malu sama penduduk pedalaman? Kita sama-sama orang Endonesia lho....

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 12:03 AM   12 komentar

Sunday, July 15, 2007
Bini: "Kok gak ngeblog? Sibuk pacaran lagi ya?"
Oke, saya memang lama sekali ndak ngeblog di sana-sini. Maksud saya, selain ndak ngeblog di internet, saya juga absen ngeblog di intranet instansi kantor saya. Sibuk sih enggak, tapi sibuuuuuuuuuuuuuk banget iya!

Belakangan bini juga nanyain kenapa ndak ada postingan baru. Lha saya kan ngungun alias bingung, wong ya komunikasi lewat ponsel lancar kok masih butuh jlentrehan abab saya dalam bentuk tulisan di blog?

Ternyata alasannya simpel. Kalo SMS atau nelpon saya ndak akan bisa ngeluarin kata-kata ndakik-ndakik tinggi apalagi romantis. Wong meski suami-istri kami ini punya julukan masing-masing yang hangudubilah noraknya. Panggilan kambing dan monyet kan gak ada romantis-romantisnya tho??

Oke saya ngeblog lagi.

Selain karena kesibukan saya juga lantaran jaringan internet yang belakangan susah sekali saya dapati. Sibuk apa sih saya?

Saya dan bala kurawa saya membentuk tim khusus yang terdiri dari para bujangan ataupun bujang geografis mempersiapkan moderenisasi kantor saya. Ke depan, secara bertahap semua kantor instansi saya bekerja akan ada embel-embel moderen. Dus kantor saya yang sekarang ini masih kantor tradisional.

Kenapa dipilih tim yang anggotanya bujang? Hal ini dilakukan karena kepraktisan saja. Ndak ada urusannya dengan gender lho ya, mbak? Sudah seminggu ini saya tinggal di kantor mengerjakan beberapa agenda menyambut persiapan moderenisasi tersebut. Bukan hal yang gampang.

Memaparkan data ternyata tak semudah yang saya bayangkan masa kuliah atau SMA dulu. Misalnya, jika saya seorang kepala desa lalu disuruh ngitung jumlah penduduk miskin selama beliau bertahta harusnya kan gampang saja tho? Tapi prakteknya ndak demikian. Ada etika birokrasi. Ini sih bisa-bisanya saya saja ngelambe dengan kata: etika birokrasi!

Nah, sebagai pembantu lurah saya harus memperhitungkan data yang akan saya paparkan nantinya tidak akan membuat Pak Camat marah ataupun Pak Bupati tiwikrama ngamuk kebakaran jenggot. Dus artinya saya harus membuat data tersebut nampak cantik.

Kata cantik di sini berarti jumlah orang miskinnya harus sesedikit mungkin. Namun tak selesai sampai disitu. saya juga harus memperhitungkan bahwa angka yang sedikit itu harus sudah termasuk angka fiktif yang nantinya akan menambah kantung harta Pak Lurah dari Tunjangan Beras Miskin. Itu baru satu contoh.

Namun saya bukan pegawai kelurahan. Silakan imajinasikan sendiri kira-kira kesulitan apa yang dihadapi oleh petugas pajak bodoh macam saya!

Eh sudah baca ini? Alhamdulillah akhirnya tunjangan kami naik. Banyak yang protes dan yang setuju tentunya cuman kami-kami ini. Yang protes tentu saja terlalu terbiasa melihat pegawai departemen keuangan apalagi pegawai pajak yang hidup serba mewah. Padahal di kantor saya jangankan mobil, wong sepeda motor dinas saja pada berebutan lho.

Artinya, nggak semua pegawai depkeu itu tajir! Bahkan saya sendiri sering nunggak mbayar listrik dan kontrakan. Begitu juga dengan pengalaman temen-temen sejawat saya di kota-kota lain. Ya buat kami-kami ini yang bersedia bekerja mengabdi di luar kota-kota besar sak-Endonesia tentunya kurang menarik buat para orang tua untuk dijadikan mantu.

Entah kemana saat ini kesan bahwa mendapat menantu Pegawai Pemda lebih baik nasibnya dari pegawai Depkeu. Hahahaha.. jika kawan saya yang barusan gagal nikah gara-gara masalah di atas mbaca ini, kacaulah saya!

Lalu apa timbal balik dari moderenisasi yang otomatis dibarengi dengan penambahan penghasilan? Harapannya sih profesionalisme dan kebersihan di tempat kerja. Ya beberapa teman di kantor moderen sering mengeluh karena semenjak beralih ke sistem moderen, mereka ndak bisa lagi memeras Wajib Pajak!

Komentar saya cuman: "Hah? Orang macam anda ternyata rakus uang juga?? Waduh!!". Lalu saya dapati rumah mewah rekan sejawat saya itu, mobil-mobilnya dan barang-barang lain yang tak saya miliki. Itu takkan bisa dia beli dengan gajinya seumur hidup. tapi dia bisa.

Lain lagi dengan teman saya yang justru sedikit mendapat hidayah (tanpa nonton sinetron Hidayah) lantaran masuk ke kantor moderen. Dia pernah sms: "kalo dengan penghasilan segini mah gue gak perlu nyari dari Wajib Pajak!!!". Lumayan positif-lah...

Saya percaya, bahwa sekeren apapun sistem dibuat oleh manusia tentunya ada loophole yang dimana akan tetap saja bisa menjadi celah bagi oknum yang kurang bertanggung jawab untuk melawan sistem. Itu lain soal... Toh ada sanksi dan punishment. Soal nanti sanksi jarang ditegakkan itu juga lain soal lagi.

Ya hidup memang tak hanya hitam dan putih saja. Ada banyak warna dan nuansa. Dan saya, insya Allah, akan tetap berusaha semeleh berserah diri dengan segala Ketetapan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah SWT! Aamiin....

Jadi tidak ngeblognya saya lebih karena kesibukan atau jaringan internet yang tidak mendukung. Bukan lantaran punya pacar baru!!!!


Labels: , , , , , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 10:11 AM   5 komentar

Friday, April 20, 2007
Saya VS Uang Plastik
Siang itu sehabis bersantap siang, saya yang ngetem di meja kerja saya, dengan melipat tangan saya tidur-tidur ayam. Jam istirahat siang memang belum usai tapi tak ada tempat yang saya tuju sehingga meja adalah tempat yang senyaman ranjang di rumah. Orang kantor masih sepi hanya beberapa bujangan yang memang tak perlu pulang ke rumah -toh ndak ada yang menunggu- tengah bermain game di depan PC masing-masing.

Saya tengah bermimpi indah. Dalam mimpi itu saya tengah menlepon Tamara mBlezeki. Saya tengah menghiburnya di tengah kemelut keluarga yang ia hadapi. Tiba-tiba jaringan ponsel error. Suaranya terdengar jelas namun kayaknya suara saya tak bisa didengar oleh Tamara. Dia memanggil-manggil nama saya.


"Mas!!! Mas!!! Mas......."


Aaarrgghh.. Rupanya cuma mimpi. Saat membuka mata, bukannya Tamara yang membangunkan saya dengan suara 1 oktaf lebih melengking dari tukang minyak keliling. Namun seorang mbak-mbak berbaju rapi dan di tangannya penuh kertas brosur.

"Maaf, mas...! Maaf saya mengganggu sebentar"

Roh saya yang baru terkumpul setengahnya hanya memasang pandangan bengong sambil sibuk mengelap air liur saya yang kemana-mana. Lalu saya tanya ada apa sih kok tega mengganggu siesta saya kali ini.

"Mas, maaf... kok kantor sepi ya? Kebetulan saya dari Bank Kura-kura mau mengadakan promosi kartu kredit"

"Waduh mbak.. Jam segini ya pada pulang, setengah jam lagi baru pada datang!!"

"Oh! Kalo begitu saya tawarkan ke mas saja"

"Waduh! Bukannya apa-apa, mbak... saya ndak tertarik punya kartu kredit, soalnya hutang kok dibikin prestisius dan berkelas, kata ibu saya yang namanya hutang ya hutang."

"Lho Mas salah! Kartu kredit memang kalo sekilas mirip dengan hutang tapi dilihat dari kegunaannya akan sangat membantu mas, apalagi banyak barang yang di jual di toko yang akan mendapat potongan harga jika menggunakan kartu kredit kami."

Saya tahu itu. Lagian buat apa kejebak diskon jika kita tahu harganya sudah dinaikkan terlebih dahulu? Namun si mbak-mbak ini menjelaskan detil kegunaan kartu ATM seolah-olah saya ini monyet yang sedang dikenalkan dengan benda bernama celana. Saya cuman menangkap sedikit dari kata-katanya, maklum saya masih ngantuk.

Setelah lima belas menitan menjelaskan, mbak itu akhirnya melakukan penutupan dengan kalimat:

"Jadi gimana, mas? Mo aplikasi sekarang?"

"Eh... Opo? Aplikasi opo, mbak??"

"Kartu Kridit Mas...."

Saya lalu bercerita tentang konsumen sebenarnya sangat dicurangi dalam penghitungan bunga bank. Saya tahu akuntansi, saya tahu trik agar nominal suku bunga kecil namun kalo dilihat dari jumlah uang yang harus dibayar akan sangat besar. Ya, sekejam-kejamnya penipuan kan penipuan yang dimana si korban tak sadar kalo tengah ditipu.

Sebenarnya antipati saya terhadap uang plastik itu benar-benar menggelegak lantaran beberapa malam lalu menonton acara OPRAH yang edisi "America's Debt Diet". Dimana di situ diberikan trik dan nasehat untuk lepas dari jeratan hutang akibat kertu kredit.

Dasar tukang kecap, dalam lima menit si mbak dari bank tadi malah melongo mendengarkan saya yang mungkin sangat micara dan cas cis cus serta mungkin saja si mbak mbatin: "Oooo orang ini bukan monyet ternyata!"

Akuntansi moderen memang memungkinkan seseorang yang mempunyai hutang 1 miliar namun masih bisa mengakui bahwa dia mempunyai pendapatan lima juta per bulan. Dan dia masih bisa tampak borju bin klimis.

Akan halnya saya? Ratusan juta rakyat Endonesia belum pernah liburan ke Phuket, Thailand. Jutaan rakyat belum pernah makan mewah di hotel atau restoran mewah. Jutaan masih bingung dengan konsep uang plastik sampai ada yang mengira uang seratus ribuan yang berbahan plastik bergambar Bung Karno adalah langkah awal Endonesia mengenalkan uang plastik.

Sampeyan boleh saja bilang sudah pernah jalan-jalan keliling dunia. Atau punya mobil yang hanya ada 2 buah di Endonesia. Saya terima dengan lapang dada. Itu karena yang bernasib sama dengan saya lebih banyak dari orang-orang semacam anda.

Bolehlah sampeyan bergelar sebagai orang yang satu-satunya dalam hal ini itu. Saya mau beramai-ramai saja. Karena saya tak suka sendirian. Saya tak sudi kesepian. Jadi saya malah seneng kalo ketemu orang di jalan yang mempunyai kaus oblong yang sama dengan saya.

Ndeso beneran saya ini, ya??!!

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

ditulis oleh bangpay @ 9:38 PM   1 komentar

HALAMAN|DEPAN

 

TEMPAT|CUAP-CUAP

 

nama :
rumah :
omongan :
 
:) :( :D :p :(( :)) :x

TULISAN|SEBELUMNYA

ARSIP|LAMA

 

 

 

| Pengunjung | Feeds | Technorati | Oggix | Photobucket | Imageshack.Us | Kampungblog | Blogger | Blogfam | RSS | Kelakuan |

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia