Fiskus alias petugas pajak yang hidup dalam gemerlap harta dan kemudahan fasilitas bukan merupakan bagian dari hidup saya. Rekan-rekan sekantor saya hidup pas-pasan, dan suka agak memalukan miskinnya kalo lagi ada undangan anu atau anu di kantor pusat di betawi. Pernah senior saya mengikuti suatu seminar di betawi merasa sangat malu (atau dipermalukan) lantaran saat seminar dibuka dia bergegas mengeluarkan notes kecil dan pulpen sedang hampir semua hadirin mengeluarkan laptop!!
Nah, kali ini saya mau cerita lagi seorang rekan sekantor saya. Beliau (sebut saja Mas AM) mengurusi 20 anak yatim piatu di rumahnya yang merupakan pinjaman dari Pemerintah Daerah Halmahera Barat.
Jika angka 20 terlalu kecil buat anda, maka coba anda bayangkan jika anda sendiri yang tinggal bersama mereka di rumah berukuran kira-kira 120 meter persegi, mengurusi makan, minum, pendidikan, pakaian, dan semua tetek bengek yang ada. Angka itu akan sangat besar jika anda harus juga mengingat kebutuhan pribadi, bukan?
Nah, kebetulan saya bersama beberapa teman kemarin mengadakan acara buka puasa bareng di panti asuhan tersebut. Ini ramadhan kedua saya berkunjung ke panti asuhan ini. Tak ada perubahan, terutama dalam kesederhanaan dan kekeluargaannya. Agak trenyuh juga ternyata wajah saya masih dikenali oleh beberapa anak kecil yang bahkan saya tidak tahu.
Jika saya dianggap kampanye pembersihan nama baik petugas pajak, ya monggo. Ning jika sampeyan semua selalu melihat petugas pajak yang kebetulan sampeyan kenal hidup bergelimang harta, ya gak salah kalo sampeyan ngira petugas pajak itu kaya-kaya... Ingat mas AM juga bergaji dua juta sekian dan hidup di pulau yang tempe berukuran kira-kira 15 cm x 8 cm x 1,5 cm berharga dua ribu rupiah!!!!
Ndak cuman ternate, mase... Kalo mau liat petugas pajak miskin mampirlah ke momere, mampirlah ke luwuk, mampirlah ke pedalaman sumatera, namun itu juga tergantung masing-masing pribadi sang fiskus. Karena saya pernah bertandang ke rumah senior saya di bandung yang target penerimaan pajak di kantornya sebesar 2 trilyun namun rumah kontrakannya jelek sekali yang hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar serbaguna, kamar mandi dan dapur.
Makanya saya cuman nyengir saat melihat di layar kaca ada junior saya yang masih kuliah di STAN terlihat protes dengan rencana kenaikan gaji khusus untuk petugas pajak (yang diiringi dg pemberian pengawasan dan punishment yang berat, yang terbukti efektif mereda KKN di beberapa kantor percobaan). Adik kelas saya itu mungkin nanti bakal kaget setelah kerja nanti dimana gaji pegawai pajak yang imej-nya selalu jelek itu gak nyampai 5 % dari gaji pegawai telkom, misalnya. Dibanding satpam bank indonesia saja gaji saya itu kayak guyonan lho....
Seorang kenalan yang dulu juga berada di ternate namun sekarang sudah mutasi di jawa bilang: "Kamu tuh dilindungi Gusti Allah dengan berada di tempat kayak neraka... ya ternate itu kawah candradimuka buatmu. Kalo kamu bisa lulus, niscaya dimanapun nanti kamu pindah, kamu bakal jadi manungso kang tansah eling (manusia yang selalu ingat)... bersyukurlah!!!"
Benarkah, Gusti?
|
betoel toelen boeng !! Djangan perna kowe ragoe samahitoe kadjoedjoeran itoe hal-echwal iang paling moelija di doenija inih !